GAGAH: Nur Haqni Hayuningtyas saat touring dengan matic Yamaha X-MAX 250. (DOKUMENTASI PRIBADI)
GAGAH: Nur Haqni Hayuningtyas saat touring dengan matic Yamaha X-MAX 250. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Berkendara dengan kecepatan tinggi dirasa memberikan sensasi tersendiri. Motor hancur karena terjatuh pun tidak menyurutkan hobi Nur Haqni Hayuningtyas mengendarai motor dengan kencang. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

RADARSEMARANG.COM – TIDAK banyak perempuan yang memiliki hobi mengendarai motor ber-cc besar. Bisa dibilang  Nur Haqni Hayuningtyas adalah segelintir orang yang memiliki hobi ini.

Bermula dari motor trail pemberian sang ayah, perempuan yang akrab disapa Tyas ini mulai menyukai motor berkecepatan tinggi. Tidak puas, ia kemudian membeli motor Ninja 250 untuk memuaskan hasratnya mengaspal dengan kecepatan tinggi.

”Dari situ saya ikut komunitas. Tapi karena saya jarang ngumpul akhirnya saya keluar dan gabung di komunitas yang deket dengan rumah. Saya gabung di Commanders 250+ sampai sekarang,” ujar staf Fraksi PDIP DPRD Provinsi Jawa Tengah ini.

Dengan komunitas ini, Tyas sudah menjelajah dengan motor gede berkecepatan tingginya. Terhitung ia sudah pernah menyambangi sejumlah tempat di Jogja, Merapi, Guci, Sarangan Magetan dan terakhir di Pangandaran Jawa Barat. Ia menggeber motornya ke sejumlah tempat tersebut.

”Berkendara di aspal dengan kecepatan tinggi adalah pengalaman berkesan. Ngebut ambil kanan kiri, sensasinya itu beda. Seperti terbang. Meskipun pernah terbang beneran kemudian jatuh,” kata biker perempuan ini diikuti ketawa kecil.

”Seringnya pakai matic Yamaha X-MAX 250. Motor ini juga yang saya pakai untuk kerja. Karena matic bisa buat kota-kota juga,” ceritanya.

Dibilang susah, sudah barang tentu susah membawa motor besar berkecepatan tinggi. Hanya saja, ia mengaku bahwa ini sudah menjadi hal yang disukai. Dengan motor yang cukup besar, ia bahkan harus memakai high heel agar kakinya sampai ke tanah. Memang butuh perjuangan, tapi tidak masalah karena rasa susah itu kalah dengan kesenangan yang didapatkan. Bahkan, jatuh di aspal pun pernah ia rasakan. Kapok? Ia menjawab ”Tidak,”.

”Pernah jatuh waktu pakai ninja di Sarangan. Terus pas touring bareng, full body hancur di Juwana, Pati. Tapi ya itu tadi, saya nggak kapok,” bebernya.

Ditanya mengenai alasannya menyukai kecepatan tinggi, dengan berseloroh ia menjawab bahwa kalau kecepatan rendah mending naik sepeda saja. Artinya, ia tidak mengetahui alasannya menyukai motor berkecepatan tinggi. Bahkan, saking seringnya mengendarai motor berkecepatan tinggi, Tyas justru takut untuk bersepeda. ”Malah takut jatuh saya kalau naik sepeda onthel,” katanya.

Tidak berhenti di 250 cc, saat ini ia sedang berupaya menambah kapasitas motornya dengan cc yang lebih besar, 400 cc. Sempat juga ia ditawari mesin dengan cc yang lebih besar lagi, namun ia masih mempertimbangkan harganya. ”Seharga rumah, mending untuk beli rumah saja,” tandasnya.

Ia mengaku tidak mendapat larangan dari keluarga dalam menjalani hobi ini, terlebih sang suami. Suaminya, mendukung sepenuhnya apa yang disukai Tyas. Suaminya hanya berpesan agar Tyas berhati-hati saat berkendara.

”Suami saya pakai vespa, tapi sekernya pakai punya Ninja. Hobinya sama sih. Karena dulu sebenarnya suami saya joki balap vespa,” ujarnya sembari mengatakan saat ini ia memakai dua motor, yakni Ninja Z250cc dan X-MAX 250cc. (*/aro)