Oleh: Yohana Natallina Sari  SSn
Oleh: Yohana Natallina Sari  SSn

RADARSEMARANG.COM – PEMBELAJARAN yang menyenangkan merupakan impian bagi peserta didik. Guru yang menyenangkan menjadi idola. Namun apa yang terjadi jika kelas tidak lagI sesuai dengan harapan? Atau bagaimana jika pemilihan metode tidak tepat dengan materi yang akan disampaikan? Pengetahuan musik yang begitu banyak, jangka waktu KBM (kegiatan belajar mengajar) yang sedikit, hanya orientasi pada ketercapaian materi menyebabkan terjadinya kejenuhan dalam belajar.

Seni budaya di dalamnya terdapat berbagai cabang seni, yaitu seni rupa, seni musik, seni tari, seni sastra dan seni drama. Semua cabang terdapat keterampilan dan pengetahuan, di mana keduanya adalah hal yang tak dapat dipisahkan. Kecenderungan peserta didik lebih suka pada saat praktik dalam bermusik, baik bernyanyi maupun dalam memainkan alat musik. Sebaliknya untuk pengetahuan musik peserta didik masih banyak yang kurang tertarik. Suasana kelas menjadi kurang menyenangkan pada saat pembelajaran dengan materi2– materi pengetahuan musik/ teori musik. Sekalipun media yang digunakan sudah menggunakan teknologi dan multimedia.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan “apa yang harus saya lalukan suapaya peserta didik senang dengan pengetahuan musik?” Pada akhirnya sebuah gagasan yang penulis sebut “Permen Karet atau permainan menggunakan kartu kwartet.

Kartu kwartet ini dibuat oleh guru, di mana kartu – kartu tersebut berisikan pengetahuan musik mancanegara di Asia yang dibuat seperti kartu kwartet pada umumnya dengan satu tema dari masing – masing kelompok kartu. Terdapat 10 tema dengan jumlah kartu 40. Beberapa tema yang ada adalah ragam musik, karya musik, alat musik, ciri – ciri alat musik dan unsur – unsur musik.

Semua disusun dalam sebuah kartu lengkap dengan gambar dan pengetahuan singkat tentang materi yang dipelajari. Permainan kartu menjadi pilihan karena kartu sangat familiar dan digemari, bukan hanya anak, namun orangtua juga menyukai permainan kartu ini. Kartu kuartet yang dibuat ini di dalamnya dilengkapi dengan gambar – gambar sesuai tema yang disajikan lengkap dengan keterangan – keterangan dengan gambar yang menarik, jelas, dan kaya warna.

Setiap kelompok yang beranggotakan empat orang dengan aturan permainan yang telah ditulis memainkan sampai ada yang memenangkan pertandingan yang ditandai dengan terkumpulkan empat kartu sesuai dengan tema. Setelah itu, setiap peserta yang menang ataupun yang kalah menuliskan rangkuman dari kartu yang mereka dapatkan.

Dalam permainan ini, peserta didik diharuskan membaca setiap kartu yang mereka dapat. Kemungkinan mendapatkan kartu yang sama akan berulang dan dengan demikian pengetahuan yang didapatpun akan sering dan memudahkan peserta didik dalam memahami sebuah materi. Suasana menyenangkan terlihat ketika peserta didik mulai memainkan setiap kartu yang ada di tangan mereka. Ekspresi yang beragam terlihat ada yang senang karena kemenangan, dan ada pula yang kecewa karena sampai berkali – kali tidak pernah menang. Ketelitian dan memanfaatkan peluang menjadi bagian penting dalam permainan ini.

Aktivitas peserta didik menjadi lebih baik setelah “permen karet” ini diterapkan. Peserta didik juga sudah mulai berani bertanya ketika mengalami kebingungan baik dengan rule permainan maupun tentang materi. Kejenuhan dalam kegiatan belajar-mengajar juga  membaik, dan suasana asyik terlihat dalam setiap kegiatan. Dan pada akhirnya pengetahuan musik tidak lagi membosankan. Evaluasi berupa ulangan tertulis dikerjakan oleh peserta didik dengan capaian hasil belajar yang baik. Tidak hanya hasil belajar, pendidikan  karakter yang muncul dalam kegiatan ini juga tampak. Peserta didik belajar menerima kekalahan (berjiwa satria). Keingintahuan yang besar dan gemar membaca akan sebuah pengetahuan. Berkesinian yang benar memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan karakter. Bukan hal yang mustahil membuat kelas menjadi asyik. Pemilihan metode yang tepat mampu menjadikan kelas menjadi menyenangkan. (igi2/aro)

Guru Seni Budaya SMP Negeri 10 Salatiga