Pasar Darurat Banyak Kekurangan

353
KECEWA : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menemukan banyak kekurangan saat sidak sidak di pasar darurat Kedungwuni. Sementara pasar tersebut akan dioperasikan tanggal 30 Juni ini. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
KECEWA : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menemukan banyak kekurangan saat sidak sidak di pasar darurat Kedungwuni. Sementara pasar tersebut akan dioperasikan tanggal 30 Juni ini. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, geram ketika meninjau pasar darurat Kedungwuni, Jumat (22/6). Bupati menemukan banyak kekurangan dalam pembangunan pasar darurat tersebut.

Padahal direncanakan tanggal 30 Juni ini pasar tersebut sudah beroperasi.

Sebanyak 1.800 pedagang direlokasi sementara di pasar darurat karena Pasar Kedungwuni akan direvitalisasi.

Beberapa hal yang menjadi sorotan bupati adalah kondisi drainase yang belum bisa difungsikan, karena banyak saluran yang belum diplester dan tertimbun tanah. Bahkan ada drainase yang sama sekali belum dibangun.

Kemudian akselerasi jalan yang masih sempit, sehingga menyulitkan masuknya truk ke samping pasar. Kondisi tersebut akan menimbulkan kemacetan bagi kendaraan kecil yang akan melintas di pasar, seperti dokar, motor dan becak.

Bupati juga meminta kepada pihak pengelola pasar darurat, untuk menyediakan musala dan lahan parkir yang memadai. Mengingat selama ini Pasar Kedungwuni menjadi tujuan dan transit dari banyak pedagang dan pembeli yang datang dari luar Kota Pekalongan.

Bupati menegaskan bahwa pasar darurat Kedungwuni harus sudah ditempati pedagang paling lambat tanggal 30 Juni. Sehingga kontraktor harus sudah menyelesaikan seluruh kekurangan pada pasar darurat tersebut, terutama akselerasi jalan dan tempat parkir.

Menurutnya Pasar Kedungwuni adalah pasar tradisional terbesar di Kabupaten Pekalongan dan selama ini menjadi tujuan pembeli dan pedagang dari luar kota.

Bupati menambahkan, pada tahun 2018 ini, Pemkab Pekalongan akan membangun blok B dan C di Pasar Kedungwuni, dengan anggaran sebesar Rp 10 miliar dari APBD dan Rp 16 miliar bantuan dari Pemprov Jateng.

Menurutnya, Pasar Kedungwuni modern untuk pedagang lama yang memiliki kartu SIP, yang terdaftar saat ini jumlahnya lebih dari 1.800 pedagang. Pedagang baru akan dipikirkan setelah semua pedagang lama tertampung.

“Pasar Kedungwuni modern yang baru ini memang untuk UMKM, karena standar harga sewanya terjangkau dan murah,” tegas Bupati Asip. (thd/zal)