SYAWALAN : Anak-anak di Kampung Jaten Cilik Tlogomulyo, Pedurungan Tengah, Kota Semarang menikmati ketupat rambut usai salat jamaah subuh di Masjid Roudhatul Muttaqim, Jumat (22/6) kemarin. (ADITYO DWI RIANTOTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SYAWALAN : Anak-anak di Kampung Jaten Cilik Tlogomulyo, Pedurungan Tengah, Kota Semarang menikmati ketupat rambut usai salat jamaah subuh di Masjid Roudhatul Muttaqim, Jumat (22/6) kemarin. (ADITYO DWI RIANTOTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Anak-anak di Kampung Jaten Cilik Tlogomulyo, Pedurungan Tengah, Kota Semarang, sejak usai salat jamaah subuh di Masjid Roudhatul Muttaqim, Jumat (22/6) kemarin, telah memadati jalan-jalan kampung untuk berebut ketupat rambut yang diberikan warga. Yakni dalam acara Syawalan atau satu minggu setelah Lebaran 1439 H yang sudah menjadi tradisi turun temurun sejak 1950-an.

Ketupat rambut sendiri adalah kupat biasa yang dibelah dua, kemudian di bagian tengahnya diisi dengan oseng-oseng tauge dan kobis. Kupat tersebut dibagikan setelah dipanjatkan doa bersama yang dipimpin oleh imam masjid setelah salat subuh. Setelah itu, para remaja masjid dan warga membunyikan sesuatu seperti beduk atau tiang listrik dan kembang api sebagai tanda dilakukannya pembagian ketupat rambut. Setelah itu, anak-anak yang sudah menunggu langsung berebut ketupat yang sudah disediakan remaja masjid.

Wakil Imam Masjid Roudhatul Muttaqim, Munawir mengatakan awal mula tradisi bagi-bagi kupat rambut diawali oleh Mbah Sutimah yang membagikan ketupat pada 1 Syawal kepada masyarakat. “Tradisi membagikan ketupat itu dimulai sekitar tahun 50-an. Waktu itu, pulang mengungsi dari perang sekutu ke Mranggen lalu pulang pas habis Lebaran puasa diperingati Syawalan,” katanya.

Sedangkan makna dengan memberikan ketupat rambut yang dibelah tengahnya, merupakan simbol bersalaman yang menandakan sudah saling memaafkan antara saudara dan tetangga di Kampung Jaten Cilik.

Namun seiring dengan perkembangan waktu, ketupat rambut itu dimodivikasi oleh warga dengan memberikan selongsong ketupat yang diisi uang dengan harapan menarik warga terutama anak-anak agar mau mengikuti kegiatan tersebut.

“Kalau ketupat lama hanya berisi sayuran. Namun pernah saat lebaran sepi, hanya diisi ketupat saja. Akhirnya warga dengan sendirinya mengisi uang, walaupun Rp1.000 sampai Rp 2.000, supaya tradisi ini tetap terlaksana dan ramai,” katanya.

Salah seorang warga yang ikut berebut ketupat, Munawaroh mengatakan tradisi bagi-bagi ketupat ini dimaksudkan agar anak-anak di Kampung Jaten Cilik merasa senang dengan ketupat yang telah diisi uang. “Dengan ikut membagikan ketupat yang diisi dengan uang, tentunya merasa bangga ikut melestarikan tradisi,” katanya. (hid/ida)