Batu Nisan Untuk Partai Tionghoa

478

Oleh: Dahlan Iskan

Kejayaan partai Tionghoa Malaysia ikut berakhir. Nama resmi partainya: MCA (Malaysian Chinese Association). Didirikan 2 Februari 1949. Pada pemilu terakhir 9 Mei lalu hasilnya tragis: hanya dapat satu kursi.

Padahal MCA pernah meraih 31 kursi pada pemilu tahun 2004. Bahkan sewaktu jumlah anggota DPR dikurangi tinggal 192 kursi pun MCA masih menduduki 30 kursi.

Satu-satunya kursi saat ini diraih oleh Dr.Ir Wee Ka Siong. Dari dapil Anyer Hitam, Johor Baru. Ia mendapat dukungan 17 ribu suara. Merosot jauh dari perolehannya di pemilu 2004. Tapi masih cukup untuk jatah satu kursi.

Wee adalah wakil presiden partai. Umurnya 49 tahun. Suku Hakka. Kelahiran Malacca. Alumni Universitas Teknologi Malaysia. Doktornya di bidang ilmu lalu lintas dari Nanyang University.

Wee dikenal dekat dengan Najib Razak, perdana menteri yang kalah pemilu. Pada periode yang lalu ia diangkat jadi wakil menteri pendidikan. Lalu menjalani operasi syaraf tulang belakang.

Dengan hanya satu kursi di DPR bagaimana nasib MCA dalam koalisi Barisan Nasional?

Itulah yang lagi jadi pembicaraan di kalangan partai suku melayu, UMNO. Partai ini sangat kecewa pada MCA. Janjinya akan all out. Nyatanya mesin partai MCA tidak jalan sama sekali. Bahkan presiden partainya pun kalah di dapilnya: Liow Tiong Lai.

Padahal MCA memiliki dua koran terbesar di Malaysia. Koran berbahasa Inggris terbesar di sana, “The Star”, adalah milik resmi MCA. Demikian juga koran berbahasa mandarin terbesar: “Nanyang Siang Pao”.

MCA punya dalih: citra pemerintah yang buruk ikut memerosotkan popularitas MCA. Keluhan lain: dalam koalisi BN suara MCA tidak pernah didengar.

Komentar seperti itu tentu  bikin berang pimpinan UMNO. ”Dari pada ngomong begitu lebih baik MCA menyiapkan batu nisan untuk kematiannya,” ujar  seorang pengurus UMNO.

Perlu batu nisan atau tidak sebenarnya memang ada tiga penyakit yang menggerogoti MCA.

Yang utama: baru bangkitnya partai lama. Yang dipelopori tokoh-tokoh Tionghoa juga: Partai Aksi Demokrasi. Dipimpin Lim Kit Siang. Ayahnya Lim Guan Eng. Menteri keuangan saat ini.

Dalam pemilu barusan suara orang Tionghoa hampir total lari ke DAP. Gejala ini sudah mulai tampak dalam Pemilu 2013. Tapi menjadi tsunami di pemilu bulan lalu.

Menurut hasil survey politik di sana 95 persen orang Tionghoa lari ke DAP. Yang lima persen lagi lari ke Anwar Ibrahim (Partai Keadilan) dan ke Wee Ka Siong (MCA).

Penyebab kedua adalah: pembusukan di dalam partai. Hampir 1 juta orang Tionghoa merasa tertipu. Partai MCA pernah bikin usaha. Mengumpulkan modal dari masyarakat Tionghoa. Usaha itu bodong.

Penyebab ketiga tentunya yang tadi itu. Sebagai anggota koalisi penguasa, MCA ikut kesiram noda. Noda korupsi.

Hasil pemilu barusan mungkin benar-benar mengubah pandangan masyarakat Tionghoa Malaysia. Dari  ideologi kesukuan menjadi ideologi demokrasi.

Semua sedang berubah di Malaysia. Ada dua arah baru di sana: ke restoran dan ke kuburan. Kalau hasilnya baik arah itu menunjuk ke restoran. Kalau hasilnya buruk, arah itu menunjuk ke kuburan. (dis)