OLAH TKP: Petugas Inafis Polrestabes Semarang saat melakukan olah TKP. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OLAH TKP: Petugas Inafis Polrestabes Semarang saat melakukan olah TKP. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANJING PELACAK: Petugas Unit Satwa K9 menerjunkan anjing pelacak untuk menelusuri pelaku dan barang bukti. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANJING PELACAK: Petugas Unit Satwa K9 menerjunkan anjing pelacak untuk menelusuri pelaku dan barang bukti. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pembunuhan sadis menggemparkan warga, Kamis (21/6) petang. Korban diketahui bernama Debora Sriani Setyowati, 50, warga Jalan Serayu II, Semarang Timur. Ia ditemukan tak bernyawa di rumah ibunya, Mak Heni, warga Jalan Senjoyo II/37B, Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur  sekitar pukul 18.30 kemarin. Korban tergeletak di lorong depan kamar tidur dengan sejumlah luka di bagian kepala.

Informasi yang beredar, korban adalah Wakil Kepala SMP Kristen Terang Bangsa Semarang. Kasus pembunuhan ini terungkap berawal saat adik kandung korban, Daud Andi Suryanto, mendatangi rumah Mak Heni pada Kamis (21/6) sekitar pukul 17.15.

“Begitu masuk rumah, Andi kaget melihat kakaknya sudah berlumuran darah di bagian kepala. Terus dia datang ke saya, menyampaikan bilangnya lho itu cacik (kakak) saya kepalanya berdarah,” ungkap Suyud, penjaga kompleks perumahan di lokasi kejadian saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Suyud menjelaskan, kedatangan Andi ke rumah tersebut hendak memandikan orangtuanya yang tengah mengalami sakit. Menurut dia, dari pengakuan Andi, saat mendatangi rumah ibunya, ia sempat curiga lantaran posisi pintu rumah tidak terkunci, dan di depan rumah terdapat sepeda motor Suzuki Smash warna biru yang tak lain milik sang kakak, Debora Sriani yang akrab disapa Debi.

“Katanya datang ke sini (rumah korban) mau memandikan ibunya. Awalnya curiga ketika hendak masuk, pintu yang biasanya digembok, tidak terkunci. Setelah membuka pintu, ia melihat kakaknya sudah tergeletak,” katanya.

Korban tewas dalam kondisi sudah menimbulkan bau tak sedap. Diduga korban telah meninggal lebih dari satu hari. Informasi yang diperoleh Suyud, korban pulang dari Tegal, Selasa (19/6) pagi, dan langsung ke rumah orangtuanya setelah sempat mampir ke rumah pribadinya di Jalan Senjoyo III, tidak jauh dari lokasi kejadian.

“Korban itu baru saja pulang dari Tegal. Padahal dia di rumah sama mamahnya, dia yang ngrumati mamahnya,” terangnya.

Suyud mengakui, selama menjalankan pekerjaannya sebagai penjaga malam tidak mendengar adanya suara keributan. Namun pada Kamis (21/6) menjelang sore, ia mencium aroma tidak sedap di sekitar lokasi kejadian. “Ya sempat mencium bau tidak sedap, saya juga cerita kepada tetangga, tapi belum mengetahui adanya kejadian ini,” katanya.

Kejadian itu langsung dilaporkan ke Polsek Semarang Timur dan diteruskan ke Unit Inafis Polrestabes Semarang. Tak berselang lama, sejumlah petugas tiba di lokasi kejadian dan langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Unit Satwa (K9) sempat menurunkan anjing pelacak. Dari hasil olah TKP, ditemukan benda keras yang masih terdapat bercak darah di dalam rumah korban.

“Ada luka di kepala bagian belakang bekas benturan benda keras,” ungkap salah satu petugas yang enggan disebut namanya.

Selanjutnya, korban dievakuasi ke RSUP dr Kariadi guna dilakukan otopsi. Hingga tadi malam, kasus ini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.

Informasi yang beredar, dugaan sementara, korban meninggal dibunuh oleh anggota keluarganya sendiri. Warga mencurigai anak pertama Deboralah yang melakukan kekerasan yang berunjung tewasnya Debora. “Waktu ditanyai polisi, Mak Heni memang seperti menjelaskan kalau anaknya itu yang memukul Debi hingga berdarah,” ujar Suyud. (mha/aro)