Festival Balon Udara Lestarikan Budaya Lokal

370
Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang MERIAH – Di hari kedua Java Balloon Festival 2018 di Pekalongan, semakin ramai dikunjungi masyarakat. Selain tepat pada hari Syawalan mereka juga penasaran dengan acara yang pertama kali digelar ini, Jumat (22/6/2018).
Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang MERIAH – Di hari kedua Java Balloon Festival 2018 di Pekalongan, semakin ramai dikunjungi masyarakat. Selain tepat pada hari Syawalan mereka juga penasaran dengan acara yang pertama kali digelar ini, Jumat (22/6/2018).

Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang
MERIAH – Di hari kedua Java Balloon Festival 2018 di Pekalongan, semakin ramai dikunjungi masyarakat. Selain tepat pada hari Syawalan mereka juga penasaran dengan acara yang pertama kali digelar ini, Jumat (22/6/2018).

PEKALONGAN – Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia menggelar festival balon udara tambat di Pekalongan, Jawa Tengah, bertajuk Java Balloon Festival Pekalongan 2018, pada Kamis-Jumat (21-22/6/2018).
Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto menyampaikan, kegiatan ini untuk meningkatkan keselamatan penerbangan dan menjadikan tradisi masyarakat sebagai ajang festival pariwisata.
“Kami melihat Java Balloon Festival Pekalongan2018 sangat atraktif untuk pariwisata. Oleh karena itu, AirNav sangat mendukung acara ini agar dapat menjadi festival tahunan,” paparnya dalam sambutan, Jumat (22/6/2018).
Turut menghadiri acara tersebut ialah Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso, Direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub Elfi Amir, Kepala Otoritas Bandara Wilayah 3 Kemenhub Dadun Kohar, Wali Kota Pekalongan Saelany Machfudz, Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandy Sitepu, Dandim Pekalongan Letkol Inf Muhammad Ridha, dan Direktur SDM dan Umum AirNav Indonesia Rahadi Sulistyo.
Novie menuturkan, festival balon udara tambat merupakan upaya menjaga keselamatan penerbangan yang mengikuti Peraturan Menteri Perhubungan No. 40 Tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara Pada Kegiatan Budaya Masyarakat.
Pelepasan balon udara tradisional yang tidak ditambatkan memang membahayakan keselamatan penerbangan. Pasalnya, balon udara tanpa awak dapat bertabrakan dengan pesawat udara dan mengakibatkan terganggunya fungsi primary flight control surfaces, ailerons, elevator serta rudder pesawat.
Hal tersebut dapat mengganggu fungsi aerodinamika dan kemudi pesawat. Selain itu, tabrakan dengan balon udara juga mengakibatkan kerusakan serius pada mesin pesawat.
“Ketentuan balon yang standar adalah dengan ukuran lebar 4 meter, tinggi 7 meter dan dilepas dengan tali sepanjang 30 meter,” jelas Novie.
Novie menambahkan, untuk meningkatkan animo peserta dalam mengeluarkan kreativitas dan kemampuan terbaik, AirNav Indonesia telah menyiapkan hadiah menarik seperti uang tunai Rp 70 juta, paket umroh, tiket pesawat, dan beragam doorprize.
Tim juri berjumlah 10 orang, berasal dari unsur AirNav Indonesia, Pemkot Pekalongan, Polres Pekalongan, Kodim Pekalongan, serta budayawan dan jurnalis Pekalongan.
Java Balloon Festival Pekalongan 2018 digelar di dua lokasi. Untuk perlombaan dilangsungkan di Lapangan Kuripan Lor, Pekalongan, yang diikuti oleh 36 tim. Sedangkan puncak acara dengan panggung hiburan diselenggarakan di Lapangan Jatayu, Pekalongan, Jawa Tengah.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso menyampaikan, menerbangkan balon udara tradisional dalam memperingati Syawalan adalah kearifan lokal yang membudaya di masyarakat beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Kami dari Kementerian Perhuhungan berharap aturan tersebut mampu menjembatani kegiatan budaya masyarakat dalam menerbangkan balon udara tradisional selaras dengan kepentingan keselamatan penerbangan,” paparnya.
Wali Kota Pekalongan Saelany Machfudz menyampaikan, tradisi menerbangkan balon udara merupakan kegiatan tahunan. Dia berharap tradisi ini tetap berjalan, juga dapat menjaga keamanan pelintasan udara, dan ajang wisata Kota Pekalongan.
Tokoh agama setempat, Habib Lutfi menuturkan, festival ini diadakan bersama-sama tidak mengurangi nilai tradisi yang ada di Pekalongan. Dia berharap, ke depan pegiat festival balon mengedepankan lambang batik Pekalongan, sehingga dapat menjadi salah satu cara mempromosikan dunia batik dengan ampuh.
“Harapannya semoga kegiatan ini melambangkan perbatikan Pekalongan, sehingga marketing perbatikan ikut terdorong. Festival balon ini juga perlu kita kembangkan dan menjaga bersama-sama untuk keselamatan, khususnya di aktivitas penerbangan,” imbuhnya.
Salah satu juri lomba Aan Jindan dari unsur seniman, mengatakan dirinya menilai dari sisi keindahan dan kekompakan peserta.
“Balon yang diterbangkan ada yang mengangkat kearifan lokal, dengan tingkat pembuatan yang rumit. Ini bukti bahwa generasi muda Pekalongan sangat kreatif dan cerdas, karena pola gambar dan motif yang dibuat juga sangat sulit,” ujarnya salut. (han/lis)