Sampaikan Ajaran Islam Menyesuaikan Lingkungan Sekitar

Mengunjungi Petilasan Perjuangan Syeh Abdul Manan di Dukuh Bogorejo Desa Bogosari Guntur

543
KHUSYUK: Warga membaca tahlil dan kitab manakib di areal petilasan Syeh Abdul Manan, Guntur, Demak. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Warga membaca tahlil dan kitab manakib di areal petilasan Syeh Abdul Manan, Guntur, Demak. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pembacaan tahlil dan manakib Kitab Manakib Syeh Abdul Qodir Al Jaelani menggema di areal petilasan Syeh Abdul Manan di Dukuh Bogoreco, Desa Bogosari, Kecamatan Guntur, Demak.

WAHIB PRIBADI

RADARSEMARANG.COM – KAMPUNG Bogoreco terletak sekitar 20 kilometer arah selatan Kota Demak, tepatnya di wilayah Kecamatan Guntur. Daerah pertanian ini kian dikenal seiring dengan adanya petilasan Syeh Abdul Manan, putra Pangeran Ndalem bin Sunan Giri bin Maulana Ishak bin Syeh Jumadil Kubro. Petilasan tersebut sekaligus menandai perjuangan pengembangan ajaran Islam ketika zaman Kewalian saat itu, tepatnya pada abad ke-14 dan 15.

Kiai Sodikin, pengelola ponpes, menuturkan, petilasan tersebut ketika itu berwujud bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mubarok. Banyak santri yang turut mengaji di tempat pondokan tersebut. Syeh Abdul Manan saat itu tercatat turut membantu membangun Masjid Agung Demak bersama para Waliyullah yang lain, termasuk Sunan Giri. “Setelah berdiri ponpes itu, pada akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Desa Bogosari,”katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dakwah Syeh Abdul Manan juga dibantu oleh pejuang Islam lainnya. Yakni, Mbah Madu atau akrab disebut Syeh Sirojudin. Makam yang bersangkutan berada di Dukuh Karangturi, tak jauh dari Bogosari. Mbah Madu sendiri memiliki tugas menuturi atau mengajak orang untuk menjalani kehidupan dengan kebaikan dengan landasan dasar agama.

Mereka berdua tidak sendirian. Dakwah tersebut juga didukung pengawas dari Keraton Demak Bintoro, Yaitu, Syeh Nolopati yang kini petilasannya berada di Dukuh Mbasan juga tak jauh dari Bogosari. Dukuh Mbasan tersebut istilah Jawa diartikan bahwa kalau menuntut ilmu (agama) jangan pernah bosan.

Selain dukungan dari Keraton Demak, perjuangan Syeh Abdul Manan bersama ulama lainnya juga disokong oleh Sunan Kalijaga. Ini dibuktikan dengan dikirimkannya utusan dari Kadilangu, yakni Mbah Dayun yang bertugas mengawasi ponpes Syeh Abdul Manan tersebut. Kemudian, di Dukuh Mbogo Rayung ditugaskan pula Syeh Kapuk atau dikenal dengan Mbah Kapuk serta dikirim pula Syeh Mbalong.  “Ketika itu, Ponpes Al Mubarok tambah ramai,”ujarnya.

Yang menggembirakan, saat itu pula juga dikirim utusan dari tanah suci Makkah. Yaitu, Syeh Julung Pujud yang populer dengan nama Syeh Abdurrahman al Kurtubi dengan status sebagai Wali Kutub. Yang bersangkutan kapasitasnya cukup dikenal di lingkungan Keraton Demak lantaran memiliki ilmu agama yang mumpuni serta ahli dzikir. “Bahkan, dlihat dari kepangkatan atau derajat kewalian sama dengan Syeh Subakir Tidar. Kalau Syeh Subakir Tidar Magelang menjadi paku bumi tanah Jawa. Maka, Syeh Abdurrahman ini menjadi paku buminya desa ini (Bogosari),”jelasnya.

Menurutnya, banyaknya utusan ahli agama yang turut membantu Syeh Abdul Manan mengembangkan ajaran Islam di kampung tersebut menambah semarak dan sejahtera masyarakat sekitar. Selain makin memahami agama, masyarakat juga hidup tenteram. “Bumi Bogosari ini diartikan sebagai tanah yang memberikan kesejahteraan (Mbejoake). Bogo artinya badan atau raga yang baik,”urainya.

Dalam sejarahnya, Desa Bogosari juga pernah menjadi daerah lintasan Sunan Kalijaga dalam membawa kayu  balok untuk kebutuhan pembangunan Masjid Agung Demak. Saat itu, Sunan Kalijaga dibantu Syeh Abdul Saleh atau disebut Mbah Sabdo Kencono yang memiliki ilmu Sabdo Pandito Ratu. Petilasan makam yang bersangkutan berada di Desa Grogol juga tak jauh dari Desa Bogosari.

Kiai Sodikin menuturkan, di Dukuh Bogoreco tempat Ponpes Al Mubarok tersebut, Syeh Abdul Manan sebagaimana para Waliyullah lainnya menyampaikan ilmu agama seraya menyesuaikan lingkungan sekitar. Artinya, tidak serta merta mengubah tradisi lokal yang ada.  Langkah yang dilakukan adalah sedikit demi sedikit mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar dengan pola tradisi kabudayan atau kebudayaan. Jadi, kalau Sunan Kalijaga dalam menyampaikan dakwahnya di antaranya pakai model pewayangan, maka Syeh Abdul Manan mamakai sarana reco (arca) untuk mengajar santri-santrinya.

Dijelaskan, reco bukan disembah sebagaimana tradisi Hindu Budha, tapi justru dipakai untuk syiar  biar mudah diterima orang ketika itu yang masih awam agama. Inti ajaran yang disampaikan adalah jadi orang janganlah terlalu melihat ke atas, ojo takabur lan gumede (sombong). Kejarlah derajat akhirat biar selamat. Selain itu, jadilah orang yang tidak banyak makan alias gemar berpuasa atau tirakat.

Dadi wong ingkang luwe lan ojo kakean mangan. Nek kakean mangan mengko gampang ngantuk ibadahe ora kelaksanan,”katanya. Hidup didunia juga harus berhati hati dan selalu ingat akan kematian. Untuk ingat Allah SWT, maka  langgengkanlah  dengan cara berdzikir.

Tokoh pemuda Dukuh Bogoreco, Abdul Muid, mengatakan, areal petilasan telah dibangun sedemikian rupa. “Kita bangun sehingga lebih nyaman kalau dibuat ngaji atau ziarah,”katanya. (*/aro)