Festival Kali Kupang, Simbol Akulturasi Budaya Pesisir

175
SIMBOL : Perahu hias sebagai simbol daerah tertentu diarak dari pelabuhan hingga Kali Kupang, Kota Pekalongan. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
SIMBOL : Perahu hias sebagai simbol daerah tertentu diarak dari pelabuhan hingga Kali Kupang, Kota Pekalongan. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN –  Wilayah Krapyak di Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, merupakan kawasan pesisir utara pulau Jawa, yang pada masa lampau memiliki peran strategis karena dilintasi sungai yang menjadi jalur transportasi air ke Pekalongan. Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, digelar Festival Kali Kupang, yang menunjukkan akulturasi budaya di pesisir Pekalongan.

Di masa perdagangan nusantara, para pedagang dan pendatang masuk Pekalongan melalui Sungai Kupang atau Sungfai Loji yang membelah Kota Pekalongan. Di sepanjang jalur sungai inilah, dulu didatangi penduduk dari berbagai suku dari berbagai daerah.

“Sebelum menggelar acara ini, kita cari fakta sejarah, bahwa dulu memang banyak pendatang di pesisir Pekalongan. Ini kami simbolkan dengan 6 kapal yang kita arak,” jelas wakil Ketua Panitia Festival Kalikupang Zainal Muhibin, Rabu (20/6).

Keenam Kapal tersebut, antara lain dari daerah Sumbawa yang identik dengan pedagang dan penenun yang kini menjadi daerah Sumbawan. Kemudian daerah Bugis Makassar dengan ciri membuat kerajinan dan ada daerah Bugisan. Lalu dari daerah  Kaluang Kalimantan atau Kalong atau daerah Banjar kini jadi Kampung Banjarsari. Kemudian para nelayan dan pedagang dari Sampang Madura, kini jadi Kampung Sampangan, dan tuan rumah sendiri adalah Mataram Islam.

Pada festival yang didatangi ribuan penonton tersebut, kapal-kapal diarak dari Pelabuhan Pekalongan menuju area Fetival Krapak di Monumen Krapyak. Satu buah kapal sejenis kapal Jukung atau kapal kecil untuk menangkap ikan di pesisir laut atau sungai, diisi dua orang pasangan laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian adat dari 6 daerah.

Setelah dilepas secara simbolis oleh wali kota beserta jajarannya, kapal diarak lagi menuju dari Landungsari. Di sepanjang perjalanan, menjadi tontonan warga.

Wali Kota Pekalongan H Salenay Mahfudz mengatakan, bahwa festival ini adalah edisi perdana. Tujuannya menjaga tradisi kuno warga Pekalongan. Serta bertujuan untuk menjaga keletarian Sungai Kupang atau Loji.

“Mari kita jaga bersama tradisi dan sungai ini, terutama generasi muda harus paham sejarah dan tradisi daerahnya,” jelas wali kota.

Selain Festival Kali Kupang masih banyak acara menarik lain. Rangkaian Festival Syawalan 2018 di Kota Pekalongan ada  Kirab Jlamprang Kultur pada Kamis (21/6), Jumat (22/6) Tradisi Pemotongan Lopis Raksasa dan dilanjutkan dengan Batik, Jazz Batik dan fashion show. (han/zal)

Silakan beri komentar.