Diduga Gugurkan Puluhan Janin

Dukun Pijat Praktik Aborsi

512
BONGKAR KUBURAN : Proses olah tempat kejadian perkara kuburan janin korban aborsi di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang oleh Tim Forensik Dokkes Polda Jateng dan Inafis Polres Magelang. (DOK HUMAS POLRES MAGELANG)
BONGKAR KUBURAN : Proses olah tempat kejadian perkara kuburan janin korban aborsi di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang oleh Tim Forensik Dokkes Polda Jateng dan Inafis Polres Magelang. (DOK HUMAS POLRES MAGELANG)

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Aparat Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Magelang terus mengembangkan kasus dugaan aborsi ilegal yang dilakukan dukun bayi Yamini, 57, warga Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Meski tersangka mengaku hanya melakukan praktik aborsi sebanyak 8 kali, tapi polisi menduga sudah puluhan kali. Jumlah ini berdasarkan temuan sementara kantong plastik berisi tulang bayi yang dikubur di belakang rumah pelaku mencapai 20 buah.

“Dari barang bukti yang sudah kita dapatkan kemungkinan korban mencapai puluhan. Penggalian masih kita lakukan, dan kemungkinan masih kita temukan kantong-kantong lainnya,” jelas Kapolres Magelang AKBP Hari Purnomo yang memimpin penggalian barang bukti hingga Selasa (19/6) malam.

Pelaku diketahui sudah menjadi dukun bayi selama 25 tahun. Berdasarkan pemeriksaan sementara, pelaku mengaku memasang tarif Rp 2 juta untuk sekali aborsi.

Selain menetapkan Yamini sebagai tersangka, status serupa juga disematkan pada pasien terakhir pelaku, NH, 40, dan suami sirinya, M, 40, warga Mungkid, Kabupaten Magelang.

Kasubdit Bid Dokkes Polda Jateng AKBP dr Ratna Relawati menjelaskan, dari tulang-tulang yang ditemukan, umur janin tersebut bervariasi. “Ada yang empat bulan, enam bulan, bahkan yang terakhir sudah umur lahir atau sembilan bulan,” jelas Ratna.

Meski demikian, Ratna belum bisa memastikan berapa jumlah janin korban aborsi. “Masih kita lakukan penelitian, karena kita dapati pula dalam satu kantong ada dua korban,” jelas Ratna.

Para tersangka terancam UU Nomor 35 tahun 2014 pasal 80 ayat 3 dan 4 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan atau denda paling banyak Rp 3 miliar. (jpg/ton)