Sebahagia Kopi Lestarikan Cita Rasa Kopi Lokal

399
CITARASA TERBAIK: Di Sebahagia kopi tangan setiap Barista berpengaruh dalam menciptakan rasa kopinya. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CITARASA TERBAIK: Di Sebahagia kopi tangan setiap Barista berpengaruh dalam menciptakan rasa kopinya. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Mendengar nama Sebahagia Kopi, terdengar masih asing ditelinga penikmat kopi di Kota Batik Pekalongan. Tempat ngopi yang terletak di Jalan Veteran 110 depan kantor Kelurahan Kraton Kidul, Pekalongan Barat Kota Pekalongan ini dulunya lebih dikenal sebagai Chestnut Coffeeshop Pekalongan.

“Kami sengaja ganti nama, karena juga ingin sesuai nama baru kami, bahagia,” ucap pemiliknya  Eko Marlyanto kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria yang akrab dipanggil Tyan ini menceritakan, semenjak kehadiran kafenya, perkembangan penikmat kopi di Pekalongan semakin besar. Dari awal dulu hanya ada beberapa kedai dan kafe kopi, kini sudah belasan yang buka baik di Kota Pekalongan maupun daerah sekitarnya.

“Target awal mendirikan kafe ini, ingin mengkloning pecinta kopi di Kota Pekalongan. Karena kami di sini tidak hanya penjual, tapi juga ingin penikmat kopi juga memahami kopi dari rasanya,” ujar mantan vokalis band rock n roll ini.

Warga Kraton Lor, Kecamatan Pekalongan Utara itu menjelaskan, dari sekian jenis kopi. Tyan berusaha mengenalkan kopi lokal daerah. Khususnya wilayah pantura dari Batang hingga Pemalang, yang ternyata memiliki kualitas kopi cukup bagus.“Kopi lokal daerah kita tidak kalah nikmat dibanding kopi nusantara yang sudah terkenal,” serunya.

Bahkan kopi Batang dan Pekalongan menurutnya memiliki kualitas kelas utama bagi dunia perkopian di tanah air. Namun sayangnya, kopi asal Pekalongan kurang mendapat perhatian khusus, sehingga perkembangannya lambat. Produksi dan standar penjualan kopi juga masih sangat kurang.“Secara kuliatas sebenarnya bagus, namun secara kuantitas masih kurang, sehingga kami masih kesulitan dalam menjualnya. Karena kebutuhan dan stok kadang terbatas,” jelasnya.

Selain itu, para petani dirasa kurang mendapatkan edukasi yang baik dalam mengelola kebun kopi. Sehingga hasil panen juga tidak bisa maksimal, bahkan asal petik buah, sehingga kualitas bean (biji kopi juga kurang bagus.

“Menurut kami, mereka butuh sentuhan dari pemerintah, agar bisa menda[pat edukasi yang tepat dalam mengeloal kebun kpoi, sehingga kualitas kopi juga bagus dan sesuai standar nasional,” harapnya. (han/bas)