Oleh: Aditya Ibnu Nugroho SPd
Oleh: Aditya Ibnu Nugroho SPd

RADARSEMARANG.COMHOAX merupakan fenomena sosial yang sedang ‘naik daun’ di masyarakat. Hampir setiap detik muncul hoax yang merajalela di dunia maya. Parahnya banyak masyarakat dengan mudahnya termakan hoax bahkan turut menjadikan hoax sebagai dasar pemikiran dan sikap serta turut menyebar luaskan. Perkembangan smartphone tidak diimbangi dengan sikap user yang smart. Masyarakat cenderung menelan berita atau info hoax secara mentah – mentah dikarenakan sudah banyak orang yang share berita tersebut, entah melalui media sosial atau jejaring/ grup.

Hoax dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘berita bohong’. Sayangnya masyarakat cenderung menilai hoax adalah berita yang tidak sesuai dengan opini dan kepercayaannya. Hal inilah yang membuat penyebaran hoax semakin tidak terbendung.

Menyikapi fenomena tersebut, penulis yang merupakan guru bahasa Inggris mencoba menerapkan upaya pencegahan hoax dalam pembelajaran. Satu hal yang disadari penulis adalah masyarakat cenderung termakan hoax karena malas mencari info pendukung yang valid dan membandingkannya. ‘attitude dan habit’ tersebut yang penulis coba kikis sedari dini. Penulis mencoba menanamkan attitude dan habit yang baik dalam menyikapi berita hoax.

Dalam pembelajaran, penulis mengajak peserta didik untuk menganalogikan bahwa opsi pilihan ganda terkandung 3 info hoax dan 1 info yang valid. Guna mendapatkan info yang valid tersebut, penulis membimbing peserta didik dengan tahapan sebagai berikut: Menentukan key words/ kata kunci dari pertanyaan dan opsi. Membaca bacaan guna memperoleh info valid dan penunjangnya. Menganalisa opsi dengan info/ data dari bacaan. Menentukan opsi yang tepat/ sesuai dengan isi bacaan dan pertanyaan.

Permasalahan yang umum muncul di kalangan peserta didik adalah jika mendapati opsi yang kesemuanya terdapat pada bacaan. Mereka beranggapan bahwa kesemuanya benar yang mana berarti mereka tidak bisa membedakan mana yang hoax dan mana yang valid. Disinilah analisa, logika dan pemahaman peserta didik mengenai isi bacaan, pertanyaan dan opsi yang menentukan.

Demikianlah sikap kita dalam menanggapi hoax. Seringkali terdapat banyak sumber dan situs yang sebenarnya berafiliasi supaya berita hoax terlihat valid dan benar. Peserta didik harus benar – benar mampu menyikapi, mencermati dan menentukan apakah opsi tersebut hoax atau tidak. Dengan pengulangan pola mencari info (red: jawaban) diharapkan peserta didik mampu menyaring info sehingga tidak salah menentukan jawaban yang tepat (red: tidak termakan hoax).

Hoax saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata mengingat dampak yang ditimbulkan demikian hebat. Hal tersebut tidak lepas dari perkembangan alat komunikasi dan sosial media yang sayangnya tidak berbanding lurus dengan para user-nya.  Dengan menanamkan attitude dan habit yang benar dalam mencari info, diharapkan akan tercipta generasi anti hoax sehingga perkembangan hoax pun bisa diminalisir karena masyarakat semakin cerdas dalam menyikapi suatu berita. (igi2/zal)

Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 3 Salatiga