GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

Penjualan alat dan obat untuk meningkatkan gairah seks ataupun kejantanan kini marak di Kota Semarang. Mereka menawarkan produk yang sebagian besar barang impor tersebut. Seperti apa?

RADARSEMARANG.COM – PENGELOLA toko alat dan obat seks di kawasan Jalan Siliwangi, Semarang, Anton, mengaku menjual berbagai jenis obat maupun alat bantu seks di tokonya. Kebanyakan adalah barang impor. Saat ditanya apakah alat seks dan obat tersebut legal atau tidak, ia merahasiakannya. Ia hanya menyebutkan, kalau obat dan alat seks yang dijualnya aman dan steril.

Anton mengaku, yang paling laris terjual adalah obat kuat dan alat seks, serta obat perangsang. Ia mengatakan, sebagian besar pembeli di tokonya kalangan perempuan, remaja, hingga ibu muda. Ada juga kalangan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

“Setiap hari hampir selalu ada yang beli. Tapi kalau waktu ramadan agak sepi. Kadang saya juga jualan online,”katanya  saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (7/6) lalu.

Terkait izin, ia menyebutkan yang lebih paham adalah bosnya, yang merupakan pemilik tokonya. Ia mengatakan, alat-alat dan obat seks tersebut kebanyakan impor. Terkait harga, diakuinya, relatif hampIr sama di semua toko alat dan obat seks, yakni mulai Rp 50 ribuan hingga jutaan, semua tergantung kualitas dan kuantitas dari barangnya.

“Yang kami jual obat yang dapat  meningkatkan kemampuan vitallitas seksual, obat mencegah ejakulasi dini, meningkatkan kerasnya ereksi alat vital, serta obat menambah stamina,”sebutnya.

Pantauan koran ini sejumlah titik yang terdapat toko yang menjual alat dan obat seks di antaranya di kawasan Semarang Timur berdekatan dengan Jalan Kartini, Jalan Pamularsih berdekatan dengan Toko Bandeng Juwana, Pedurungan dan seputar Jalan Siliwangi, serta masih banyak lagi. Toko-toko tersebut, rata-rata menjual jenis-jenis sex toys, seperti dildo (alat kelamin pria buatan) mulai dari ukuran standar hingga ukuran besar atau big.

Ada juga vibrator, karena alat kelamin pria buatan itu bisa bergerak, bergetar, dan maju-mundur. Sedangkan jenis obat paling banyak dijual Viagra, Cialis, Green Viagra Herbal, Nangen Zengzhangzu, Africa Bleck, Maxsimum Power Full, Maxman, V6 Tian, Procomil Spray, dan lainnya.

Sayangnya, kebanyakan pengelola toko alat dan obat seks ini menolak diwawacara begitu tahu yang datang wartawan. Ada 6 toko yang didatangi koran ini. Namun hanya dua toko yang berhasil dikorek. Itupun setelah koran ini menyamar sebagai calon pembeli obat kuat dan obat seks, vibrator bisa membuat pasangan mencapai klimaks berkali-kali. Makanya, produk ini laris di toko kami. Ada juga produk yang terbuat dari karet silikon yang berbentuk alat kelamin pria dengan penuh gerigi di sekeliling alat tersebut, tapi kebanyakan yang beli ibu-ibu muda,”kata Agus, penjual toko alat seks di kawasan Semarang Timur.

Disebutkannya, alat bantu seks untuk laki-laki jarang yang memesan. Ia mengatakan, kebanyakan yang melakukan pembelian adalah wanita, sedangkan pria kebanyakan mencari obat kuat. Terkait izin, ia juga bungkam. Ketika ditanya kalangan mana saja yang paling sering membeli di tokonya, Agus mengatakan, kebanyakan adalah perempuan muda, dengan usia yang menurut taksirannya masih di bawah 35 tahun.

“Kebanyakan pembelinya, orang-orang yang mengaku kesepian karena berjauhan dari pasangan. Ada juga mereka yang menginginkan petualangan seks lebih daripada apa yang sering dilakukan dengan pasangannya,”katanya.

Sementara itu, pemberantasan terhadap keberadaan seks shop ilegal tergolong masih belum maksimal. Padahal seks shop tersebut buka secara terang-terangan meski diduga tidak memilik perizinan baik dari segi perizinan obat-obatan maupun tempat jualan.

Kabid Pemeriksaan dan Penyidikan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Semarang, Zeta Rina, mengatakan, seks shop yang masih marak di pinggir jalan tersebut dibedakan menjadi dua permasalahan. Di satu sisi adalah obatnya atau alatnya, dan sisi lainnya adalah sarana atau tempat penjualan.

“Kalau obatnya (peralatannya) memang masih menjadi tugas kami. Nah itu kita melakukan pengawasanya terintegrasi atau bersama-sama. Karena kalau kaitannya dengan produk, itu menjadi tugas BPOM,” ungkapnya.

Sedangkan terkait sarana atau tempat, Rina menyebutkan, sebagian besar tidak mengantongi izin. Padahal sarana yang dijadikan tempat penjualan harus memiliki izin dari instansi terkait.  “Kalau sarana atau tokonya itu kan ilegal, harus ada perizinanya, ada penanggungjawabnya, apoteker kalau apotek atau klinik. Jadi dua-duanya itu harus ada izinnya. Tapi ini sebagian besar tidak ada,” tegasnya.

Meskipun demikian, Rina telah rutin melakukan kegiatan pemberatasan dengan cara menggelar razia atau operasi. Dari kegiatan tersebut, pihaknya juga kerap menyita barang bukti seks shop tak berizin.  “Selama ini kan kita turun, barang kita sita. Tapi besok jualan lagi, sebab yang dipasarkan barangnya hanya sedikit, barangnya tidak banyak. Terus mereka jualan lagi pindah tempat. Modusnya seperti itu,” bebernya.

Selain menyita barang bukti, pihaknya juga mengamankan penjualnya. Namun, mereka bukanlah orang utama. Sebab, mereka hanyalah suruhan dari pemilik yang hanya mendapat upah kerja, menunggu pembeli atau konsumen.

“Penjualnya modusnya anak belasan tahun yang jaga. Kita panggil, membuat surat pernyataan itu tidak mengulangi lagi. Habis itu kita tidak bertemu dia lagi, sebab, dia itu berpindah-pindah. Padahal harusnya kita ngejarnya yang pok-nya,” katanya.

Rina menyebutkan, para penjual seks shop tak berizin yang marak di pinggiran tersebut juga berasal dari daerah Jateng. Bahkan mereka berjualan tidak hanya di lingkup Jateng, melainkan sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia, termasuk Kota Semarang. “Baik pemilik maupun penjual dari KTP-nya, dari Wedung Demak. Kalau anak-anak itu bilangnya ini punyanya bosnya, saya hanya disuruh nunggu saja kalau ada pembeli,” bebernya.

Terkait pemberantasan tersebut, Rina mengakui masih kurang maksimal. Sehingga pihaknya menggerakkan tim satuan petugas (satgas) yang di dalamnya melibatkan pemda, dalam hal ini anggota Satpol PP selaku penegak peraturan daerah (Perda), kepolisian dari segi untuk penanganan unsur pidana, termasuk Dinas Kesehatan, dan perizinan tempat.

“Kalau tanpa izin edar itu, Balai POM bisa berteindak. Makanya kita selama ini mengoyak-oyak untuk menggerakakn Satgas supaya konprehensif. Iklan-iklanya itu kan juga termasuk legal. Sebab, selama ini, itu juga tidak termasuk ditertibkan, yang ditertibkan produknya. Jadi, kita menganggap masih kurang efektif, makanya kita harus bersama-sama,” katanya. (jks/mha/aro)