PANEN : Para buruh tani memanggul padi dengan batangnya sebelum dirontokkan di areal persawahan Desa Mranak, Kecamatan Wonosalam. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANEN : Para buruh tani memanggul padi dengan batangnya sebelum dirontokkan di areal persawahan Desa Mranak, Kecamatan Wonosalam. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, DEMAK-Hasil panen padi untuk musim tanam (MT II) di wilayah Kabupaten Demak mengalami penurun kualitas dan harga. Meski masih di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.750 perkilogram, namun banyak petani yang merugi.

Sebab, ongkos penanaman hingga perawatan tidak sebanding dengan hasil panenan. Pada panen kali ini, harga gabah ditingkat petani Rp 4.200 hingga Rp 4.500 perkilogram. Selain itu, pada MT II ini, banyak tanaman yang gagal karena serangan hama penggerek batang  (serangga).

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Pemkab Demak, Ir Wibowo mengatakan, berdasarkan pantauan yang dilakukan, panen raya padi sudah lebih dari 30 persen dari luas lahan 52.315 hektare. Menurutnya, pada MT II ini, target produksi rata-rata sekitar 6,5 ton hingga 7 ton perhektare. Secara umum, target produksi juga mengalami penurunan lantaran areal pertanian alih fungsi lahan untuk perumahan maupun pendirian perusahaan.

Karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut, Dispertan melakukan pengendalian melalui program perluasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (P2B). Sebab, alih fungsi lahan sendiri mencapai 50 hektare pertahun.

“Untuk alih fungsi lahan ini, kami sedang mengidentifikasi tiga kecamatan. Yaitu, Kecamatan Demak Kota, Wonosalam dan Kebonagung. Selanjutnya, menyusul kecamatan lainnya, Kecamatan Dempet, Karanganyar dan Gajah,” katanya. (hib/ida)