Generasi Modern, Pendidikan Karakter dan Bahasa Indonesia

159
Oleh: Endah Aprilina  SPd
Oleh: Endah Aprilina  SPd

RADARSEMARANG.COM – TAK dapat dipungkiri bahwasanya kita hidup di era millenial berdampingan dengan generasi millenial. Generasi zaman now sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, sehingga mereka tidak mudah untuk dipahami. Tidak heran kalau mereka diberi cap yang kurang baik  oleh generasi sebelumnya. Generasi yang memiliki karakter efisien,lebih percaya pada suara teman-temannya dan dengan cepat mengikuti perkembangan teknologi ini kadang memang bertentangan dengan  karakter-karakter baik yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Pendidikan karakter merupakan upaya yang dirancang secara sistematis guna membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan. Pendidikan karakter diwujudkan melalui pikiran,sikap,perasaan,perkataan dan perbuatan berdasarkan norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. (Kemendiknas.2010)

Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik yang diperuntukkan generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah hidup yang lebih baik, lebih khusus ditekankan pada pendidikan etika dan moral atau akhlak siswa.

Apabila kita perhatikan dengan lebih seksama dari kisah-kisah di media massa ataupun media penyiaran, banyak perilaku siswa yang kian jauh dari etika dan moral. Dalam bertutur, bersikap. Siswa tempo dulu sangatlah menghormati guru dan orang tua. Bagaimana dulu seorang siswa menyambut sosok guru,berlari-lari,berebut untuk berjabat tangan dan berebut membawakan tas bapak atau ibu guru mereka. Dalam bertutur siswa tempo dulu sangatlah sopan dan penuh penghormatan terhadap lawan bicara. Namun seiring perkembangan zaman nilai-nilai semacam itu telah luntur. Bahkan tak jarang kita selaku pendidik mendengar suara-suara yang mestinya tak keluar dari mulut seorang siswa. Belum lagi tindak laku yang lainnya yang menunjukkan krisis karakter baik, seperti kejujuran,gotong royong dan sikap spiritual.

Banyak hal yang telah dilakukan dunia pendidikan untuk membentuk karakter yang baik, misalnya berjabat tangan dengan bapak ibu guru ketika mereka datang dan pulang sekolah, pembiasaan misja atau kamis jawa,sholat dhuhur berjamaah. Semua hal tersebut dilakukan adalah semata-mata untuk menumbuhkan karakter yang baik pada diri siswa melalui pembiasaan-pembiasaan yang baik.

Menyoroti pembiasaan Misja atau Kamis Jawa,di mana peserta didik diminta untuk berbahasa Jawa pada setiap hari Kamis kadang muncul hal-hal yang menggelikan,dimana kadang siswa memberikankan penghormatan terhadap  dirinya sendiri lewat bahasa jawa yang mereka pergunakan.Misalnya Kulo badhe kondur. Bahasa Jawa yang memiliki stratifikasi Bahasa atau unda usuk basa ternyata tidaklah mudah. Apalagi jika siswa-siswa tak menggunakan bahasa Jawa yang santun (kromo alus) di rumah. Memang benar adanya bahwasanya pendidikan karakter mesti diawali dari rumah dan lingkungan sekitar terlebih dahulu.

Bahasa Indonesia sebagai salah satu alternatif untuk bertutur apabila siswa tak mampu menggunakan bahasa Jawa yang santun. Meskipun Bahasa Indonesia tidak memiliki stratifikasi bahasa tetapi Bahasa Indonesia memiliki konotasi baik dan konotasi buruk. Kita dapat memilih konotasi yang baik untuk bertutur dalam rangka mewujudkan karakter baik. (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 8 Salatiga