Nasib Sastra Lama Makin Merana

179
Oleh: Dewi Wardah SPd
Oleh: Dewi Wardah SPd

RADARSEMARANG.COM – KEBERADAAN sastra lama Indonesia  akhir-akhir ini semakin lama semakin suram dan merana nasibnya seakan-akan sudah tidak bermakna. Pada kenyataannya,sebetulnya materi sastra sangat penting untuk diajarkan kepada peserta didik namun pada kurikulum 2013 sekarang materi sastra hanya sedikit dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Hal ini terlihat ketika menyampaikan materi Ulasan Karya Kita (Bahasa Indonesia kelas VIII) dalam materi ini mengulas sedikit tentang novel-novel sastra  lama. Misalnya dalam materi ini mengulas isi novel Atheis dan Laskar Pelangi.

Dalam proses pembelajaran, anak ditanya tentang novel Salah Asuhan itu karya siapa? Novel Layar Terkembang itu karya siapa? Dan novel Belenggu itu karya siapa? Mereka tidak ada yang bisa menjawab satu pun dalam satu kelas. Nah hal ini yang menjadikan guru Bahasa Indonesia ikut prihatin , karena peserta didik selalu mengabaikan atau menganaktirikan sastra lama. Jangankan dibaca, dilihat pun tidak pernah. Sehingga nasib sastra lama semakin merana, sungguh kasihan. Padahal novel-novel sastra lama mempunyai nilai didik, nilai moral untuk dijadikan wawasan atau teladan dalam realita kehidupan sekarang.

Ada enam hal yang membuat sastra lama semakin merana di era globalisasi, yakni: Pertama, novel-novel sastra lama angkatan 1933 sampai 1950 sudah sangat langka dan sulit diperoleh  pada 2018 ini. Di perpustakaan sekolah atau perpustakaan daearah, kita hanya bisa menemukan 4 sampai 5 novel Atheis dan novel Siti Nurbaya. Contohnya novel Atheis karya Achdiat K Mihardja penerbit Balai Pustaka 1949. Novel ini di perpustakaan sekolah hanya ada empat. Jadi semua peserta didik tidak bisa mempunyai kesempatan untuk membaca novel-novel pada angkatan tersebut.

Kedua, kurang minatnya peserta didik terhadap karya sastra. Alasan mereka bisa bermacam-macam. Ada yang menganggap bahwa karya sastra itu membosankan, mereka juga merasa karya sastra lama itu hanya untuk kalangan orangtua, karya sastra itu menceritakan kehidupan kuno/lama, karya sastra itu sudah ketinggalan zaman.

Ketiga, mereka lebih suka membaca teenlit (novel-novel remaja) yang isinya lebih sederhana dibandingkan dengan karya sastra lama yang isinya serius dan berbobot. Mereka juga berpikir bahwa novel-novel teenlit sesuai dengan kisah-kisah kehidupan remaja yang pernah dialaminya sesuai dengan tingkat usia mereka. Sedangkan karya sastra selain novel, seperti puisi dianggap alay/mengada-ada tidak sesuai dengan realitas kehidupan sekarang.

Keempat, sastra lama tidak dibiasakan atau diajarkan sejak awal/sejak usia dini  pada pendidikan dasar (SD).Seharunya mereka mulai mengenal, membaca dan mengetahui  novel-novel sastra lama tetapi hanya diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di SMP. Akibatnya, peserta didik  tidak mengetahui sama sekali seperti apa sastra lama itu, padahal sastra Indonesia itu penting untuk menunjukkan identitas dan pribadi bangsa.

Kelima, peserta didik lebih senang membaca cepat saji artinya membaca atau  mengambil ringkasan sebuah novel yang sudah ada di internet. Sehingga mereka tidak perlu membaca novel aslinya yang tebal dan membutuhkan waktu lama. Nah ini yang menjadikan mereka enggan/ malas untuk membaca novel aslinya. Hal ini sebetulnya tidak mendidik mereka untuk lebih mencintai atau mengerti secara langsung novel-novel lama sebagai kekayaan sastra Indonesia. Bisa dikatakan minat baca mereka rendah.

Keenam, sastra-sastra lama seperti novel, cerpen, puisi tidak dicetak ulang  atau dibuat kembali oleh penerbit dalam edisi-edisi terbaru. Ini  yang  membuat kita sulit untuk membaca  novel-novel lama  sampai mengetahui isinya secara mendalam.

Nasib sastra lama yang makin merana dapat diatasi dengan empat cara, yaitu meningkatkan minat baca peserta didik terhadap karya sastra lama (novel,cerpen,puisi), menanamkan kepercayaan kepada peserta didik bahwa sastra lama itu memiliki unsur nilai pendidikan dan moral bukan sebagai sastra yang dianggap ketinggalan zaman, mengenalkan dan membiasakan membaca sastra lama sejak usia dini pada pendidikan dasar/SD, serta penerbit mencetak ulang sastra-satra lama dengan edisi-edisi terbaru. (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga