RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Alumnus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Windu Purbowo bin Purwadi, 30, dijerat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang dengan pasal berlapis atas kasus dugaan penipuan dengan modus korban dijadikan pegawai negeri sipil (PNS). Kasus tersebut sudah memasuki tahap pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

“Kami akan mengajukan pembelaan secara maksimal,” kata Windu Purbowo melalui kuasa hukumnya, Hermansyah Bakri, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain Windu, dalam kasus tersebut menyeret Maria Sri Endang Tridadi, 59, warga Sendangmulyo, Tembalang, sebagai pelaku utama dan R Herry Sucipto, 59, yang mengaku pensiunan Polda Jateng, warga Sukabumi, Jabar. Advokat yang akrab disapa Dio itu menilai, penetapan tersangka kepada kliennya kurang tepat, karena kliennya merupakan korban bukan pelaku.

“Keluarga besar klien kami dijanjikan oleh Maria Sri, masuk CPNS. Totalnya, sebanyak 4 orang. Adapun yang menghubungkan oknum pensiunan Polda Jateng bernama Herry Sucipto,” tandasnya.

Dari keempat korban itu, lanjut Dio, kepada Endang korban menyetorkan uang sebesar Rp 1,3 miliar, yang masing-masing setiap orang sekitar Rp 350 juta. Para korban semakin percaya, karena dikenalkan oknum polisi. Maka ibunda Windu bernama Yuli Heriyani merasa yakin dan nekat menjual rumah untuk memenuhi uang tersebut.

“Belakangan Windu hanya diminta bekerja di rumah Maria. Kemudian diminta menjadi sopir dan mengantarkan SK CPNS kepada korban-korban lain, yang sudah dijanjikan Maria sendiri. Lambat laun baru terungkap, ternyata SK itu bodong,” ungkapnya.

Dalam dakwaannya, JPU Kejari Kota Semarang, Yustiawati menjerat Windu Purbowo dengan pidana dalam Pasal 378 KUHP jo Pasal 56 ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. Dikatakan JPU, terdakwa telah memberikan bantuan kepada saksi Maria Sri Endang Tridadi (dilakukan penuntutan secara terpisah), yang semuanya berawal pada 2012 ketika saksi Siswanto diundang oleh almarhum Sumarsono di ruang kerja di Polres Boyolali, yang bercerita tentang kondisi keluarganya, terutama anak-anaknya yang belum bekerja.

Terdakwa sendiri membantu Maria Sri untuk mengantarkan para korban ke Jakarta dengan menyerahkan tiket kereta api dari stasiun Tawang Semarang menuju stasiun Gambir Jakarta. Sesampainya di Jakarta terdakwa juga mendampingi para korban ketika menginap di Hotel Menteng untuk pengarahan dan Diklat, namun kenyataannya di Jakarta tidak ada kegiatan apa-apa. Selanjutnya para korban disuruh mengisi daftar riwayat hidup dan keesokan harinya para korban dikembalikan ke Semarang untuk menunggu SK asli. Namun semua itu hanyalah tipu muslihat dari saksi Maria Sri Endang Tridadi dan Windu Purbowo saja. (jks/ida)