SKG Tumbuhkan Inspirasi Hidup Sehat

238
Oleh: Siti Manzuzatun SPd MMPar
Oleh: Siti Manzuzatun SPd MMPar

RADARSEMARANG.COM – TUJUAN pembelajaran bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan saja, namun lebih utama adanya perubahan tingkah laku yang baik atau penerapan ilmu ke dalam kehidupan sesungguhnya. Ilmu gizi pada program keahlian tata boga masih dianggap sebagai pengetahuan yang dihafal saja dan sekadar memenuhi pemenuhan standar nilai. Guru belum maksimal dalam memperkuat kompetensi siswa dari sisi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara utuh.  Padahal sebagai siswa SMK kelas X mereka termasuk dalam kategori remaja, dimana permasalahan gizi yang dihadapi para remaja cukup serius dan perlu pemahaman pentingnya status gizi yang baik.

Dewasa ini para remaja lebih menyukai makanan cepat saji yang kurang memiliki kandungan gizi yang lengkap, kadar gula dan kolesterol tinggi. Banyaknya remaja yang memiliki status gizi kurang maupun status gizi yang lebih. Kurangnya konsumsi buah, sayur dan air putih di kalangan remaja. Kebiasaan olahraga dan penerapan perilaku hidup sehat juga kurang diperhatikan oleh para remaja. Di sinilah peran guru untuk memotivasi dan mendorong siswa untuk penerapan Ilmu gizi pada para siswa. Para siswa perlu ditanamkan pentingnya kesehatan, atau sering disebut status gizi. Apabila tubuh berada dalam tingkat kesehatan optimum, maka  tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang setinggi-tingginya. Dengan status gizi yang baik maka produktifitas akan meningkat. Remaja awal masih membutuhkan gizi sebagai unsure pembangun atau pertumbuhan bagi perkembangan otak maupun fisiknya.

Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dan penerapan ilmu gizi kepada para siswa melalui pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakannya. Guru dapat memperkaya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial para siswa. Salah satu cara yang dapat ditempuh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang membuat siswa mampu memecahkan masalah secara alamiah.

Model pembelajaran  yang sesuai ilmu gizi adalah metode Studi Kasus Gizi (SKG). SKG dapat dilakukan dengan tahap-tahap yang disusun atau diskenario oleh guru demi suksesnya metode ini.  SKG melalui langkah-langkah awal yakni merumuskan masalah, dalam hal ini guru memberikan permasalahan gizi pada diri siswa, teman sebaya dan masyarakat sekitarnya.

Dalam studi kasus dapat disusun pertanyaan-pertanyaan atau permasalahan gizi diri sendiri, teman sebaya atau permasalahan pada masyarakat sekitar. Berbagai hal yang melatarbelakangi masalah gizi yang muncul, kebiasaan-kebiasaan makan sehari-hari, komponen apa saja yang dikonsumsi, pola hidup sehari-hari dan lainnya. Dalam mengidentifikasi guru memberikan bimbingan kemudian dikembangkan oleh para siswa oleh siswa bersama dengan kelompok diskusinya.

Setelah teridentifikasi para siswa melakukan analisis masalah-masalah yang telah ditemukan. Dalam menganalisis juga dilakukan secara kelompok dengan membahas klarifikasi masalah, saling bertukar pikiran dalam menentukan hal-hal yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah gizi. Setelah tahap analisis, langkah selanjutnya siswa merumuskan hipotesis, hipotesis berdasar hasilkajian kelompok diskusi dan menajamkan hipotesis sebagai alternatif pilihan solusi. Setelah merumuskan hipotesis para siswa perlu mencari sumber informasi lain yang dilakukan mandiri baik melalui buku paket  berbagai alternatif pemecahan sampai pada akhirnya siswa dapat menghasilan rekomendasi.

Melalui SKG yang dilakukan, siswa benar-benar memahami dan terpacu untuk menerapkan pengetahuan gizi yang diperoleh. Hal ini disebabkan siswa dilibatkan dalam kegiatan pemecahan masalah secara konkrit yang akhirnya menghasilkan suatu rekomendasi sebagai solusi yang mereka hasilkan. (igi2/aro)

Guru Tata Boga SMK Negeri 1 Salatiga