Sekkaron, Kolaborasi Keindahan Empat Desa

1109
FOTOGENIK: Beberapa pengunjung tengah berpose di sangkar burung Gumuk Reco Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
FOTOGENIK: Beberapa pengunjung tengah berpose di sangkar burung Gumuk Reco Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
EKSTREM: Sejumlah wisatawan mancanegara menikmati paket wisata Sekkaron salah satunya adalah ayunan langit yang cukup memacu adrenalin. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – KEINDAHAN Alam di sekitar Salatiga yang berupa pegunungan saat ini banyak diolah menjadi lokasi wisata. Saking banyaknya, beberapa desa saling memberdayakan potensi masing–masing. Namun, untuk lebih gereget, ada yang menggabungkan seluruh potensi wisata menjadi satu paket wisata.

Salah satunya adalah Ekowisata Budaya Sekkaron, yang merupakan gabungan kepanjangan dari nama beberapa desa yakni desa Sepakung, desa Kemambang, desa Kebumen, dan desa Tegaron. Semua desa itu berada di wilayah Kecamatan Banyubiru yang mempunyai potensi wisata tersendiri.

Lokasinya ditempuh sekitar 30  menit dari kota salatiga. Untuk mencapai ke lokasi wisata ini memang cukup menantang. Jalurnya cukup membuat deg–degan. Rute ke Sepakung melalui tanjakan yang amat tajam. Pengendara harus berhati-hati untuk melewati jalur itu. Suasana alam yang hijau sangat indah. Wisata yang dikembangkan antara lain helipad marep mungkur, sky bike atau sepeda gantung, kolam mbalong, ayunan langit dan kali kulon.

Kepala Desa Sepakung Ahmad Nuri memaparkan konsep wisata Sekkaron mulai dikenalkan kepada wisatawan domestik hingga internasional. Konsep wisata itu menekankan di sektor pertanian, perkebunan, pendidikan . Dijelaskan dia, keempat desa sepakat bersinergi untuk saling mendukung antar-destinasi. Wisata yang ditonjolkan tak hanya eksploitasi alam, melainkan sosial budaya.

Ahmat Nuri menambahkan, disamping destinasi wisata alam, ekowisata budaya Sekkaron juga menyuguhkan wisata pertanian dan perkebunan. Para wisatawan bisa mencoba pekerjaan petani mulai proses pengolahan tanah, penanaan hingga panen. Bahkan pada wisata perkebunan, para wisatawan juga bisa melakukan pengolahan hasil perkebunan hingga siap saji. “Untuk wisata pertanian wisatawan bisa mencoba menanam padi dan sayuran. Untuk wisata perkebunan, wisatawan bisa memanen dan mengolah kopi hingga siap diminum,” ujarnya.

Menurut dia, paket wisata pertanian dan perkebunan itu dibuat untuk menarik wisatawan asing. Sebab sebagian besar turis asing berwisata ke Indonesia tak hanya sekedar menikmati destinasi wisata saja. Mereka juga ingin mengetahui budaya dan merasakan kehidupan masyarakat pedesaan. “Kami mencoba memenuhi keinginan para turis asing. Dan yang kami sungguhkan ternyata mendapat respon positif dari turis asing yang datang ke sini,” tandasnya.

Sementara itu, koordinator kelompok sadar wisata Desa Sekambang Sulian, 49, kepada wartawan mengatakan, pendirian ekowisata Sekkaron berawal dari keinginan untuk menggerakkan perekonomian desa yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan bermodal panorama alam yang eksotis, tanah pertanian yang subur dan budaya serta kesenian lokal, akhirnya warga nekad mendirikan ekowisata budaya Sekkaron.

Daya tarik ekowisata budaya Sekkaron yang telah menembus Eropa, Sulian menuturkan, daya tarik utamanya adalah budaya lokal dan keramahan masyarakat di kawasan ekowisata budaya Sekkaron. Setiap wisatawan baik lokal maupun manca negara yang datang langsung disambut dengan suasana kekeluargaan dan suguhan kesenian lokal.  Selain itu, sejumlah destinasi wisata alam seperti Gumuk Reco, Cemoro Sewu, air terjun Gua Semar dan sunset Klarasan juga menjadi daya tarik tersendiri.

Salah satu pengembagan wisata adalah tersedianya akses dan fasilitas yang nyaman. Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan, untuk mendukung wisata Sekkaron, saat ini ada dua homestay yang telah beroperasi. Pemda juga terus bekerja memperbaiki akses lokasi ke desa wisata itu. Bahkan telah menganggarkan Rp 1,6 miliar untuk jalan akses. (dhinar sasongko/bas)