RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang akan memaksimalkan fungsi dua alat early warning system (EWS) tanah longsor.

Kepala BPBD Kabupaten Semarang, Heru Subroto mengungkapkan, sampai dengan awal semester II 2018 telah terjadi belasan bencana tanah longsor yang hampir merata di seluruh kecamatan.

“Prosentase bencana tanah longsor hampir 30 persen dari total kejadian bencana sepanjang tahun ini,” kata Heru, Selasa (12/6). Atas kondisi tersebut, pihaknya memberikan perhatian lebih pada potensi terjadinya tanah longsor.

Saat ini dua alat EWS bantuan dari Pemerintah Pusat dan milik DPU Kabupaten Semarang terpasang di Desa Wirogomo Kecamatan Banyubiru. Padahal data BPBD menunjukkan kejadian tanah longsor sepanjang 2017 lebih banyak terjadi di Kecamatan Jambu.  “Kejadian tanah longsor di Jambu tercatat sebanyak 12 kali dan dua kali di Banyubiru,” bebernya.

Sehingga untuk mengantisipasi terjadinya korban dan kerugian yang lebih besar, alat EWS akan dipindahkan ke wilayah Kecamatan Jambu. “Hingga saat ini, belum ada rencana BPBD untuk membeli alat EWS baru,” katanya.

Selain alat deteksi, BPBD mengagendakan sosialisasi dan simulasi penanganan bencana tanah longsor dan kebakaran kepada warga di wilayah rawan bencana. Melalui kegiatan itu, diharapkan para warga dapat memiliki bekal pengetahuan dan ketrampilan untuk menghadapi kejadian bencana.

Rencananya kegiatan akan dilaksanakan di dua desa yakni di Wirogomo Kecamatan Banyubiru dan Desa Gemawang Kecamatan Jambu. “Kedua desa itu dipilih karena berdasarkan analisa memiliki potensi besar terjadi tanah longsor dan kebakaran,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Semarang, Ngesti Nugraha meminta warga yang berada di wilayah rawan bencana tanah longsor untuk selalu waspada. Bagi korban bencana untuk tetap bersabar dan tegar menerima cobaan. “Bantuan untuk setiap warga yang terkena bencana akan tetap diberikan oleh Pemkab Semarang,” kata Ngesti. (ewb/zal)