Ditemukan 20 Kasus Malaria Impor

228

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo meminta warga Wonosobo yang mudik atau pulang dari perantauan untuk langsung cek darah di tiap puskesmas atau rumah sakit.

Langkah ini untuk mengunci penularan penyakit malaria. Karena sampai saat ini, terdapat 20 kasus malaria terdeteksi impor, atau orang tersebut sudah digigit nyamuk anopheles sebelum pulang ke Wonosobo.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Wonosobo Jaelan Sulat mengatakan, sampai saat ini total kasus malaria impor terdeteksi 20 kasus. Tersebar di wilayah Kecamatan Kalibawang 7 kasus, Mojotengah 6 kasus, Sapuran 3 kasus, dan masing masing satu kasus di Kecamatan Wonosobo, Kertek, Leksono dan Kepil.

“Dari kasus tersebut, terdeteksi para perantau yang terkena malaria 18 orang merantau dari Papua dan sisanya merantau dari Kalimantan,”katanya.

Untuk itu, kata Jaelan, untuk menekan penularan penyakit malaria kepada orang lain, bagi perantau untuk segera cek darah di puskesmas terdekat. Langkah ini sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadi penularan lokal. Selain itu para korban yang terkena gigitan nyamuk anopheles ini bisa segera diatasi.

“Kita giatkan surveilans migrasi. Semua perantau yang baru pulang kita ambil sediaan darah dan diperiksa malaria. Jika positif kita obati sehingga tidak menular kepada orang lain,” paparnya.

Jaelan mengatakan, untuk menggiatkan ini, pihaknya meminta kepada masyarakat Wonosobo, agar memberi tahu warga yang pulang merantau untuka segera melakukan pemeriksaan di puskesmas atau Dinas Kesehatan. Bisa juga sebaliknya, warga memberitahukan kepada petugas puskesmas terdekat atau petugas kesehatan apabila ada warga yang pulang merantau.

“Kalau petugas kami diberitahu, kami akan lakukan pemeriksaan kepada perantau yang baru pulang ke Wonosobo. Sehingga deteksi awal bisa berjalan,” tandasnya.

Selain penyakit malaria, Jaelan juga berharap kepada masyarakat menjelang Lebaran benar-benar teliti terhadap makanan dan minuman yang akan dikonsumsi. Selain mengetahui masa kedaluwarsa juga memastikan bahan-bahan yang digunakan dalam membuat makanan atau minuman tersebut sehat. Sehingga tidak muncul kasus keracunan masal dawet hitam seperti yang berlangsung di Kecamatan Wadaslintang belum lama ini.

“Termasuk jajanan pasaran dan jajanan menjelang berbuka. Warga harus teliti dan memahami bahan-bahan yang digunakan terhadap makanan maupun minuman tersebut,”pungkasnya. (ali/lis)