Oleh : Siti Muawanah MPd
Oleh : Siti Muawanah MPd

RADARSEMARANG.COM – KEMAJUAN dunia pendidikan saat ini jika tidak diikuti dengan kesiapan mental dan spiritual, maka akan berdampak negatif kepada generasi muda khususnya para anak didik pada tingkat pendidikan dasar yang sedang dalam proses mencari jati diri dan membentuk karakter. Banyaknya ketersediaaan tempat dan fasilitas untuk mengakses internet, tempat-tempat hiburan, mal-mal, lembaga pendidikan maupun fasilitas instan lainnya  membuat anak didik enggan untuk berada dirumah dan membaca buku pelajaran setelah sekolah usai.

Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan salah satu disiplin ilmu yang berkenaan dengan fenomena dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yan menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat. Dalam kenyataannya setiap perilaku manusia dalam hubungannya dengan manusia lain maupun  hubungannya dengan alam menjadi salah satu kajian dalam pembelajaran IPS.

Berawal dari kesulitan penulis dalam menyampaikan materi IPS agar dapat dipahami dengan baik oleh peserta didik dan keprihatinan akan dampak negatif penggunaan internet yang salah, maka penulis mencoba mencari model pembelajaran yang paling sesuai  dengan memanfaatkan media internet.

Pendekatan pembelajaran modifikasi CTL mensyaratkan agar peserta didik belajar dari lingkungan nyata atau membawa lingkungan sekitar ke dalam kelas sehingga peserta didik dengan kemampuannya sendiri akan mampu membangun konsep, pemahaman dan pengetahuan yang dapat mereka manfaatkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Selama ini secara umum permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan antara lain adalah banyak peserta didik mampu  menyajikan tingkat  hapalan  yang  baik terhadap  materi ajar yang  diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka tidak memahaminya, sebagian besar dari peserta didik tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan/dimanfaatkan, dan peserta didik memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan yaitu dengan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah.

Permasalahannya adalah bagaimana guru dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari peserta didik, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep dan mampu mengkaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga dapat membuka berbagai pintu kesempatan selama hidupnya ?

Corperative learning yang merupakan salah satu model pembelajaran dari pendekatan CTL mungkin bisa menjadi solusi atas permasalahan di atas. Hal ini sudah penulis lakukan dan berdampak positif terhadap peningkatan  kemajuan belajar dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Pada model pembelajaran ini guru melakukan langkah-langkah enam fase. Pertama,  menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai. Kedua, menyajikan informasi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. Ketiga, menjelaskan kepada peserta didik bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. Keempat, membimbing kelompok belajar. Kelima, mengevaluasi hasil belajar dan meminta kelompok untuk  mempresentasikan hasil kerja. Keenam, memberikan penghargaan  baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Sedangkan peserta didik akan melaksanakan tugas diskusi dengan kelompok belajarnya, sehingga mereka akan melalui pengalaman belajar paling tidak lima dari tujuh komponen CTL, yaitu konstruktivisme (membangun pemahaman diri), Inquiry (menemukan), Questioning (bertanya), Learning Community (masyarakat belajar), Modeling (pemodelan), Reflection (refleksi), dan  Authentic Assessment (Penilaian yang sebenarnya). Ketika peserta didik diberi kesempatan untuk belajar bersama kelompoknya dengan mengakses materi melalui internet dan guru benar-benar melaksanakan enam fase langkah pembelajaran secara runtut, ternyata proses dan hasil belajar yang mereka presentasikan sungguh luar biasa.  Peran guru sebagai motivator dan fasilitator ternyata mampu mendorong peserta didik untuk melaksanakan diskusi dengan sungguh-sungguh dan berusaha menguasai materi yang akan dipresentasikan tanpa menggunakan teks bacaan seperti yang mereka lakukan sebelumnya.

Peserta didik mampu menampilkan informasi-informasi terkini yang mereka peroleh dari browsing internet maupun dari sumber lain, bahkan dengan motivasi yang diberikan guru mereka mampu melakukan presentasi secara atraktif dan interaktif dengan melakukan pemodelan sehingga kelompok lain yang menyaksikan menjadi tertarik  dan ikut berpartisipasi secara aktif. Pada akhir pembelajaran guru memberikan lembar kerja untuk diisi peserta didik dan hasilnya nilai yang diperoleh peserta didik 100 persen tuntas, bahkan rata-rata mereka mendapat nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 80 ke atas.  (igi2/aro)

Guru IPS SMP Negeri 1 Salatiga