Satu Kesedihan di Antara Jutaan Kebahagiaan

78
Oleh: Baehaqi Direktur Jawa Pos Radar Semarang
Oleh: Baehaqi Direktur Jawa Pos Radar Semarang

Barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya dan hari rayanya itu sendiri, Allah menghidupkan hati orang itu pada hari di mana hati pada mati.

RADARSEMARANG.COM – MENTHOK (angsa) potong itu sudah dipesan seminggu lalu. Menurut rencana sore ini dimasak semur. Makannya besok setelah salat idul fitri. Itulah pesta hari raya ala Ibu Henny Susilowati, salah seorang manajer Radar Kudus. Agak berbeda dengan kebanyakan orang yang memasak opor ayam. Menurut rencana saya juga memasak opor ayam ini karena mudah. Ayamnya sudah di kulkas.

Sudah tidak rahasia lagi bagi umat muslim di Indonesia, idul fitri identik dengan pesta. Malam nanti kalau tidak ada perubahan, suara takbir menggema di mana-mana. Bersahut-sahutan. Sampai kehilangan esensinya. Tidak hanya dari masjid dan musala. Takbir keliling dengan tetabuhan dan salon-alon super besar ikut memekakkan telinga.

Takbir, tahmid, dan dzikir adalah mengecilkan diri mengagungkan Allah. Karena itu, mestinya dilakukan dengan tenang, khusuk, dan fokus. Inilah yang bisa menghidupkan hati. Kalau terjaga, akan tetap hidup sampai kiamat nanti di mana banyak hati pada mati. Para kiai dan da’i selalu menyampaikan hal ini dalam khutbah-khutbahnya.

Pesta hari raya berlanjut besok (juga kalau tidak ada perubahan). Gelaran salat id bertebaran di mana-mana. Di masjid, lapangan, dan jalan-jalan. Semua pasti meluber. Bapak-bapak, emak-emak, ahjusi, ahjuma, tua, muda, besar, kecil, tumplek blek di tempat salat ied. Mukena kaum peremuan yang dulu putih, kini sudah warna-warni. Merah, putih, hijau, biru, ungu, dan hitam. Yang pria juga mengenakan pakaian terbaik.

Lihatlah besok pagi (kalau Hari Raya betul-betul Jumat). Jamaah salat id meluber di mana-mana. Bandingkan dengan salat Jum’at siangnya.  Jamaah salat id jauh lebih banyak. Padahal, salad id itu sunnah. Apabila dikerjakan mendapat pahala, bila ditinggalkan tidak berdosa. Sedangkan salat Jum’at itu wajib. Kalau dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan berdosa.

Banyak orang yang tidak lagi berpikir syariat. Sedih juga. Peristiwa ritual keagamaan sudah berubah menjadi budaya. Orang yang tak pernah sembahyang lima waktu pun ikut mementingkan salad id. Para dai dan kiai tidak bisa mencegah hal ini. Orang berbuat baik harus difasilitasi. Semoga hatinya semakin terbuka.

Pesta masih berlanjut. Salam-salaman. Unjung-unjung. Silaturrahim. Halal bihalal. Dalil-dalil yang mendukung meluncur deras. Padahal di Mekah, kota kelahiran Nabi Muhammad, tidak ada pesta seperti ini. Demikian juga di Madinah, kota di mana Nabi menghabiskan sebagian sisa hidupnya untuk berdakwah.

Budaya silaturrahim inilah yang membuat masyarakat hirup pikuk. Rumah-rumah direnovasi. Cat diperbarui. Korden dicuci. Mobil dibuat cling. Di setiap meja ada hidangannya. Para sanak kadang pulang kampung. Keluarga berkumpul. Pemerintah bingung. Harus menyiapkan libur panjang agar tidak terjadi kemacetan di jalanan. Lagi-lagi, dalilnya sailaturrahim yang mestinya dilakukan kapan saja.

Selain hidangan, ada juga hadiah lebaran. Miliaran uang baru diicetak untuk memenuhi kebutuhan ini. Baju koko dan sarung juga bertebaran. Saya termasuk menerimanya. Dua sarung dari dua orang. Yang satu dari politisi. Yang satu dari seorang manajer. Itulah sarung politik. Ada juga angpao politik. Termasuk dari para calon kepala daerah yang memanfaatkan momen lebaran.

Sulit mengerem diri untuk tidak masuk dalam kehebohan tersebut. Saya pun berada di dalamnya. Sejak pertengahan puasa berkeliling. Mengunjungi rumah karyawan Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang. Satu per satu. Dari gang ke gang. Dari kampung ke kampung. Dari satu kota ke kota lain. Dari satu kabupaten ke kabupaten lain.

Karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang itu tersebar di 18 kota/kabupaten di Jawa Tengah. Radar Kudus ada di Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan. Sedang Radar Semarang tersebar mulai dari Kabupaten dan Kota Pekalongan, Batang, Kendal, Kota dan Kabupaten Semarang, Demak, Salatiga, Kota dan Kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

Banyak orang bertanya kenapa direktur bersusah-payah berkeliling yang menghabiskan waktu dan tenaga. Toh hanya untuk mengantar parsel yang tidak seberapa harganya. Jawab saya sederhana. Saya hanya khawatir kalau parsel dibawa pulang karyawan dengan sepeda motor. Kalau berceceran di jalan, bisa ditangisi anak-anaknya.

Alhamdulillah di momen lebaran ini saya bisa berkunjung ke rumah seluruh karyawan. Suatu kesempatan yang sulit selain di Hari Raya ini. Saya bisa tahu korden-korden baru, teras-teras yang licin, tembok-tembok yang cemerlang, dan meja-kursi yang tertata rapi.

Lebih dari itu, saya bisa tahu ternyata ada karyawan yang baru kehilangan anggota keluarganya. Ada yang segera menambah keluarga alias menikah atau beranak. Juga ada yang akan kehilangan anggota tubuhnya atau sunat.

Sayangnya, di balik kebahagiaan itu ada tangis yang harus saya simpan. Betapa kedatangan saya ternyata mengecewakan banyak orang. Saya terpaksa menolak nyaris seluruh tawaran untuk duduk dan berbincang barang sejenak. Hanya satu yang saya terima. Di rumah Wahib, wartawan Radar Semarang di Demak. Itulah rumah terakhir karyawan Radar Semarang yang saya kunjungi. Sekalian beristirahat.

Suguhannya luar biasa. Anggur dan kelengkeng. Rupanya kualitas super. Gedenya dua ibu jari. Penyiapannya sejak lama. Saya tahu. Tehnya sudah dingin. Penyambutan seperti inilah yang saya khawatirkan. Merepotkan. Tetapi tuan rumah bangga.

Seperti itulah kebanyakan masyarakat kita. Mereka berlomba menyiapkan hidangan untuk tamu-tamu yang kerkunjung. Inilah pesta. Ritual keagamaan yang menjadi budaya. Jutaan manusia berbahagia. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin. (hq@jawapos.co.id)

Silakan beri komentar.