Peserta Thong-Thong Lek Habiskan Rp 20 Juta

85

REMBANGSuara keras dan menggelegar. Itu terjadi saat Festival Thong-Thong Lek Selasa (12/6) malam. Peserta rela menyewa satu paket sound system lengkap dengan genset. Satu grup minimal ada satu truk dan satu pikap. Itulah yang membuat biayanya di kisaran Rp 20 juta.

Truk sebagai panggung utama. Bak truk dimodifikasi. Sehingga, sekat kanan, kiri dan belakang tidak ada. Isinya macam-macam. Yang wajib ada itu sound system. Lalu peralatan musik.

PENUH HIASAN: Truk dari salah satu peserta yang penuh hiasan melintas di Jalan Kartini.
(KHOLID HAZMI/RADAR KUDUS)

Ada yang pakai alat musik tradisional seperti gamelan. Ada yang tak kalah kreatif. Mereka memanfaatkan barang-barang bekas sebagai alat musik. Misalnya alat musik perkusi, yang dipakai barang-barang seperti galon bekas. Ada juga yang pakai tong.

Selain alat musik dan pengeras suara, ada yang tak boleh absen. Yakni sang penyanyi. Beberapa peserta rela menyewa penyanyi yang biasa manggung pada orkes dangdut.

Elemen hiburan lain tak boleh absen di panggung berjalan itu adalah lighting. Benar-benar seperti panggung hiburan. Panggung berjalan itu dihias dengan bermacam pernak-pernik.

Di belakang panggung berjalan ada belasan orang berjalan kaki. Mereka berjalan sambil memukul kentung. Seolah jadi pengiring dari musik dan lagu yang dibawakan di atas panggung berjalan.

Susilo, salah satu peserta dari Kelurahan Pacar, Rembang menjelaskan, panitia mengeluarkan dana sekitar Rp 20 juta. Dana tersebut didapat dari iuran warga. ”Itu sudah semuanya. Mulai dari sewa truk, menghias truk, sampai konsumsi yang ikut main,” jelasnya.

Festival Thong-Thong Lek tahun ini diikuti 26 peserta. Jumlah tersebut lebih banyak dari tahun lalu yang hanya 19 peserta. Dari jumlah tersebut, ada salah satu peserta dari Tuban.

Mereka start dari depan rumah dinas kapolres Rembang. Dilepas oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz sekitar pukul 21.00. Mereka menempuh jarak sekitar tiga kilometer. Finish di Lapangan Rumbutmalang.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menjelaskan, ada tiga juri yang didatangkan panitia. Dua orang berasal dari Universitas Negeri Semarang (Unnes). Satu lainnya praktisi dari Kabupaten Pati.

”Juri yang didatangkan panitia benar-benar profesional. Penilaian utamanya pada alat tradisional yang dimainkan peserta. Itu untuk melestarikan tradisi,” jelasnya.

Di sisi lain, festival ini menimbulkan sekitar 12 kubik sampah yang berceceran di Jalan Kartini dan Jalan Pemuda. Itupun belum termasuk sampah plastik yang diambil oleh para pemulung.

Petugas penyapu jalan bekerja sekitar pukul 05.00. Sampah-sampah dikumpulkan, lalu dimasukkan ke wadah yang ada di pinggir jalan. Sekitar pukul 07.00, ada lagi petugas kebersihan yang mengambil sampah ke dalam gerobak.

Sampah itu lalu dibawa ke kontainer terdekat. Sepanjang Jalan Pemuda dan Jalan Kartini, ada dua titik kontainer sampah. Yakni di depan Stadion Krida Rembang dua kontainer. Kemudian di depan Bank Pasar satu kontainer.

Wakijan, salah satu sopir truk sampah mengungkapkan, biasanya setelah ada acara besar terjadi peningkatan volume sampah. Meningkatnya minimal satu kontainer. Kapasitas satu kontainer bisa menampung enam kubik sampah.

”Misalnya di depan stadion ada dua kontainer, berarti tambah satu kontainer. Lalu di depan Bank Pasar itu jadi dua kontainer. Paling tidak ada tambahan dua kontainer atau 12 kubik,” jelasnya.

 

 

(ks/lid/ris/aji/JPR)

Silakan beri komentar.