Pemudik Dihibur Api Unggun dan Pertunjukan Musik

Melongok Rest Area Rasa Camping Pecinta Alam di Gombel, Semarang

130
MELEPAS LELAH : Pemudik beristirahat di rest area berkonsep pecinta alam dengan tenda dome di Gombel, Semarang. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
MELEPAS LELAH : Pemudik beristirahat di rest area berkonsep pecinta alam dengan tenda dome di Gombel, Semarang. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

Rest area di tanjakan Gombel, Banyumanik, Semarang ini berbeda. Sebab, tempat istirahat bagi para pemudik ini berupa sejumlah tenda dome layaknya perkemahan pecinta alam. Selain fasilitas yang memadahi, di rest area ini juga disuguhkan hiburan lengkap dengan pemandangan Kota Semarang bawah.

SIGIT ANDRIANTO

RADARSEMARANG.COM – SEJUMLAH tenda tersusun rapi berjajar di kawasan tanjakan Gombel Semarang, tepatnya di depan Hotel Alam Indah. Tenda-tenda ini sengaja disediakan bagi para pemudik untuk rehat sejenak. Fasilitas yang disediakan pun rasanya cukup membuat pemudik istirahat dengan nyaman.

Posko rescue mudik dan rest area ini diinisiasi  oleh Lintas Komunitas Semarang bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang. Setidaknya ada 20 komunitas yang tergabung di sini. Seperti Relawan Sosial Pecinta Alam (Resopala), Komunitas Pendaki Gunung (KPG), Dasa Pala Semarang, Indonesia Offroad Federation (IOF)/pengcab Kota Semarang dan sejumlah komunitas lainnya. Bendera dari sejumlah komunitas juga dapat dilihat berjajar di lokasi rest area ini.

Semua komunitas memang dipersilakan bergabung. Harapannya, semua komunitas di Semarang bisa bersatu dan membuat satu kegiatan bersama. Terutama dalam membantu para pemudik menuju kampung halaman.

Dijelaskan Dodi Ariyanto, sesepuh Resopala atau pencetus posko berkonsep pecinta alam ini, setidaknya ada 15 dome atau tenda yang disediakan di posko yang sudah berdiri sejak H-7 lalu ini.

”Hanya saja yang berdiri ada 8 tenda. Konsepnya memang pecinta alam, menyesuaikan basic kami sebagai pecinta alam dan relawan,” jelas pria yang akrab disapa Mbah Rimba ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakui, sudah banyak yang mampir di rest area yang juga memperhatikan kebutuhan pemudik ini.Toilet, musala, dan dapur umum semua disediakan untuk membuat pemudik nyaman beristirahat.

Alhamdulillah dari awal banyak yang mampir. Rata-rata sehari 15 pemudik yang singgah sebentar kemudian melanjutkan perjalanan. Di sini, selain untuk istirahat juga evakuasi motor mobil bermasalah,” ujarnya.

”Ketika ada mobil dan motor mogok akan diderek ke sini. Ada teknisi, ada bengkel. Gratis semua,” katanya.

Dijelaskan Mbah Rimba, rest area berkonsep pecinta alam ini sudah berjalan di tahun ketiga. Mulanya para relawan memang berpikir ingin membuat rest area yang beda dengan lainnya.

”Menyesuaikan basic kami sebagai orang lapangan lah. Kami kondisikan tenda-temda agar lebih nyaman untuk tidur satu keluarga. Sesuai privasi dan jauh dari kesan formal,” jelasnya sembari menambahkan ada sekitar 50 relawan yang terlibat di rest area ini dibagi sebagai tenaga pantau, informasi, dan yang lainnya.

Yang lebih membedakan lagi, saat malam hari para pemudik dihibur dengan acara api unggun. Bahkan disajikan pula penampilan band oleh salah satu bagian dari lintas komunitas ini. ”Ada perform komunitas pemusik, Imitasi Band, Iwan falsan,” paparnya.

Tahun depan, rencananya masing-masing wilayah di Semarang akan ada posko sendiri. Dengan demikian, dari masing-masing komunitas berbagai wilayah di Semarang bisa saling mengisi kekurangan satu sama lain dalam hal membantu para pemudik.

”Sini nanti jadi pusatnya. Rencananya, besok (malam ini) di rest area ini juga akan digelar takbiran serta makan ketupat bersama. ”jelas pria yang senang melihat orang-orang melakukan kegiatan sosial dengan senang ini.

Disebutkan, rata-rata pemudik yang singgah hendak menuju ke Solo, Ngawi, dan Malang. Keberadaan rest area yang cukup unik ini diapresiasi para pemudik. Selain terbantu, mereka mengaku senang dengan konsep dan pemandangan yang ditawarkan. ”Baru sekali mampir ke rest area seperti ini. Biasanya ke masjid dan warung,” ujar Sutikno, 39, pemudik asal Malang yang membawa 6 anggota keluarganya dengan 5 motor.

Ia mengaku, memilih mudik naik sepeda motor karena kesulitan mendapatkan tiket kereta api. Selain itu, mudik menggunakan motor dinilainya lebih hemat. ”Fasilitasnya lumanyan nyaman. Asyik juga karena ada di daerah tinggi,” katanya. (*)

Silakan beri komentar.