Tradisi Mudik Bersama Idul Fitri

109
Oleh: Arikhah
Oleh: Arikhah

RADARSEMARANG.COM – MUDIK, istilah dan fenomena paling ngehit saat ini, terutama hari-hari jelang Lebaran. Di mana-mana memperbincang tradisi adiluhung bangsa ini. Mulai dari pekerja kasar, para pejabat, artis, karyawan, pedagang juga mahasiswa mencurahkan segala kemampuannya untuk bisa mudik ke kampung halaman. Mereka tidak lagi mempersoalkan besaran harga tiket pesawat, kereta, bus atau transportasi umum lainnya. Mereka juga tidak mengeluhkan kemacetan dan berjejalnya kendaraan di jalan raya, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana bisa pulang kampung bertemu dengan orangtua, sanak saudara dan handai taulan yang lama telah ditinggalkannya.

Bisa jadi mudik bagi sebagian mereka terdapat pergeseran arti Idul Fitri dari kembali kepada kesucian menjadi kembali ke kampung halaman.

Mudik, kembali ke udik, atau pulkam, pulang kampung, seharusnya dilaksanakan dalam konteks kembali menemukan momen Idul Fitri. Kembali menjadi manusia dengan kesucian jiwa dari segala noda dan dosa. Pengalaman satu bulan berpuasa dan melaksanakan aktivitas ibadah Ramadan merupakan bulan pembersihan diri dan pensucian menjadi pribadi unggul. Nafsu dan emosi telah dikelola sedemikan rupa. Tidak saja untuk menjadi jiwa yang memiliki spirit ibadah yang ikhlas, akan tetapi juga melahirkan jiwa dan pribadi yang santun ranah dan memiliki kepedulian sosial yang baik.

Kesucian diri inilah sejatinya menjadi dambaan setiap insan yang sungguh-sungguh dan istiqamah melaksanakan amalan selama Ramadan. Jiwa yang bersih dari khilaf dan dosa, inilah sosok yang al-‘a’idin, kembali kepada fitrah. Pribadi yang terasah dengan amalan positif sebagai imbas dari kesungguhan beribadah Ramadan menjadikan golongan yang al-fa’izin atau orang-orang yang sukses meraih banyak pahala dan keberuntungan. Maka, minal a’idin memiliki bobot kualitas yang cenderung personal, yaitu relasi antara manusia dan Tuhannya, sementara al-fa’izin, bermakna lebih sosial yang mengedepankan relasi antar manusia dan sekitarnya. Inilah kualitas paripurna sosok yang kembali ke jalur fitri, yang memiliki kelebihan dan keunggulan personal yang semakin dekat dengan Allah bersama ridha-Nya, dan keunggulan sosial yang ramah dan santun bersama manusia dan alam.

Fenomena mudik Lebaran dengan berbagai sudut pandang, seperti filosofi, antropologi, ekonomi, psikologi atau bahkan politik, mesti tidak mengesampingkan makna substansinya sebagai kesinambungan ibadah di bulan Ramadan. Para pelaku mudik bagaimana juga di tengah semangat bersilaturrahmi kepada orangtua, sesepuh, guru dan sanak saudara atau bersedekah kepada kerabat yang papa, harus kembali mempertimbangkan sisi substansi Idul Fitri yang mengantarkan menjadi jiwa-jiwa yang bersih, suci dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah yang disertai karakter yang aktif, ramah dan santun dalam persoalan sosial kemasyarakatan dan penuntasannya.(*)

Dosen UIN Walisongo dan  Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Kota Semarang

Silakan beri komentar.