Peruntukan Zakat Fitrah

235

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr Wb Bapak Dr KH Ahmad Izzuddin M.Ag yang saya hormati dan dimuliakan Allah. Sebelumnya mohon maaf Pak Kiai. Bagaimana jika hasil zakat itu digunakan untuk membangun ekonomi umat (tidak diserahkan kepada fakir miskin langsung)? Dan bagaimana jika ada warga yang langsung menyerahkan zakatnya tidak kepada amil, namun langsung kepada warga yang tidak mampu? Terima kasih atas jawabannya.

Robith di Semarang 082244240xxx

Waalaikumussalam Warahmatullah Bapak Robith di Semarang yang saya hormati dan dimuliakan Allah. Terima kasih atas pertanyaannya. Jika yang bapak maksud dengan zakat adalah zakat fitrah, maka ia tidak boleh digunakan kecuali buat fakir miskin, utamanya fakir miskin yang ada di tempat pembayar zakat itu bermukim. Ini karena tujuannya adalah membebaskan fakir miskin dari mengemis saat hari Lebaran. Tetapi jika yang bapak maksud dengan zakat adalah zakat mal harta, maka ia diperuntukkan bagi delapan kelompok sebagaimana disebut dalam QS At-Taubah, yaitu, Sesungguhnya zakat-zakat hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengelola-pengelolanya, para muallaf, serta untuk para budak, orang-orang yang berutang, dan pada sabilillah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 60).

Kini sekian banyak ulama kontemporer memasukkan dalam kelompok fii sabilillah semua kegiatan sosial, baik yang dikelola oleh perorangan maupun organisasi-organisasi Islam, seperti pembangunan lembaga pendidikan, masjid, rumah sakit, dan lain-lain, dengan alasan bahwa kata sabilillah dari segi kebahasaan mencakup segala aktivitas yang mengantar menuju jalan Allah dan Ridha-Nya. Ini adalah pintu yang sangat luas mencakup semua kemaslahatan umum. Ada juga ulama yang tidak setuju memperluas makna fii sabilillah. Mereka hanya memahaminya dalam arti segala upaya untuk membela agama, baik secara fisik material maupun pembelaan dalam bentuk pemikiran. Pada masa kini, boleh jadi serangan terhadap Islam dalam bidang pemikiran lebih berbahaya dan lebih berdampak buruk daripada serangan militer, sehingga kalau dulu para ulama hanya membatasi pengertian fii sabilillah dalam hal mereka yang menjaga dan mempertahankan perbatasan atau mempersiapkan tentara untuk menyerang musuh, pembelian senjata, dan alat-alat perang, maka kini perlu ditambahkan bentuk lain dari pertahanan dan persiapan penyerangan, antara lain dalam bidang pemikiran dan dakwah.

Menyerahkan zakat oleh wajib zakat kepada yang berhak, sah-sah saja. Tetapi menyerahkannya kepada lembaga BAZIZ lebih baik, karena lebih terjamin pemerataan pembagian zakat itu. Ini boleh jadi mustahaq (yang berhak menerima) memperoleh dari berbagai sumber sedang ada yang lain yang tidak memperoleh sama sekali. Di sisi lain, memberi kepada amil yang tidak resmi berarti menunjuk wakil bapak untuk memberinya sedang amil zakat yang resmi atau semi resmi berkedudukan mewakili kelompok-kelompok yang berhak menerima. Konsekuensi perbedaan ini menjadikan bapak masih berkewajiban mengeluarkan zakat, jika zakat yang bapak amanatkan ke amil yang mewakili bapak itu menghilangkannya, karena zakat belum sampai kepada yang berhak menerima. Akan tetapi, jika bapak menyerahkannya kepada amil resmi atau BAZIZ, maka karena dia mewakili yang berhak, bapak tidak perlu mengeluarkan zakat lagi seandainya zakat yang bapak serahkan itu hilang ditangan amil tersebut. Sekian jawaban dan tanggapan yang dapat saya berikan, semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. (*)