Lebaran Aboge 16 Juni

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Penganut aliran kepercayaan Kejawen Aboge (Alif Rabu Wage) asal Wonosobo, tahun ini akan merayakan Lebaran pada Sabtu Pahing 16 Juni 2018. Perayaan Lebaran versi Aboge ini, selisih satu hari dari penghitungan kalender hijriyah yang diperkirakan jatuh pada Jumat 15 Juni.

Menurut Pimpinan Aliran Kepercayaan Aboge Wonosobo Sarno Kusnandar, Aboge memiliki rumus tersendiri dalam penghitungan kalender. Termasuk dalam penentuan tanggal 1 Syawal ini, mendasarkan pada 1 Syura. Tahun ini 1 Syura jatuh pada Sabtu Legi, maka 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu namun hari pasaran maju dua yakni pada Sabtu Pahing.

“Dasar penghitungan kami bertumpu pada hari dan hari pasaran 1 Syura,” ujarnya.

Dalam kepercayaan Aboge, kata Kusnandar, penentuan tanggal 1 Ssyawal menggunakan rumus Waljiro yang merupakan akronim dari sasi Syawal dinane ajek pasarane maju loro. Yang berarti 1 Syawal harinya tetap dihitung sama dengan 1 Syura. Sedangkan hari pasaran maju dua hari. “Tiap tahun, dalam penentuan Syawal, kami memang selalu selisih antara 1 sampai 2 hari dari penghitungan hijriyah,” ujarnya.

Dengan penentuan Lebaran ini, kata Kusnadar, maka para penganut aliran kepercayaan Aboge akan menjalani ibadah puasa hingga Jumat (15/6). Perayaan Lebaran Aboge akan dipusatkan di Dusun Binangun Desa Mudal Kecamatan Mojotengah.

Rangkaian acara akan dimulai sejak 15 Juni malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Prosesinya, para penganut aliran kepercayaan menggelar semedi (bertapa) hingga larut malam. Setelah itu, pada pagi harinya akan dilakukan syukuran. Warga membawa makanan ke Masjid dan menggelar doa bersama dilanjutkan makan bersama keluarga.

“Sebagai acara puncak kita lakukan salaman warga dari anak-anak hingga kalangan tua untuk saling memaafkan. Biasanya diterbangkan balon tradisional sebagai ungkapan kegembiraan atas nikmat yang diberikan yang maha kuasa, namun terkait larangan oleh pemerintah, kami tidak menerbangkan balon tradisional,” jelasnya. (ali/ton)

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -