Bangga Kenakan Batik

118

”Waktu SMP malah antibatik. Aneh begitu. Ternyata waktu ikut komunitas, diajarin, ternyata ada sejarahnya dan banyak yang terkandung di baliknya,” kata mahasiswi semester akhir Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta kemarin.

Gadis kelahiran Kudus, 15 Januari 1996 itu akhirnya tergugah mencintai batik. Bahkan, dia mempelajari motif-motif khas batik dari beberapa daerah. Kemudian, batik-batik yang dia punya dikenakan di berbagai kesempatan. Alhasil, motif-motif tertentu pun berhasil menarik minat rekan-rekannya untuk lebih tahu tentang batik.

”Biasanya kalau pas kuliah di Jogja ada yang tanya, pas aku pakai motif asal Kudus, parijoto, madu mongso, atau lain. Akhirnya sekalian mempromosikan Kudus,” ungkap gadis yang tinggal di Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota, Kudus itu.

Ghina yang kini memiliki banyak waktu luang. Karena tinggal tugas akhir banyak memanfaatkan waktu terus belajar lagi tentang salah satu kesenian khas nusantara itu. Apalagi, motif batik di Nusantara sangat banyak dan khas. ”Kalau sekarang jarang ke kampus. Paling kalau mau ketemu dosen. Paling dua minggu sekali,” papar Ghina.

(ks/ful/ris/top/JPR)

Silakan beri komentar.