Nguri-uri Tradisi Kuliner Jawa dengan HKK

66
Oleh: Endang Wahyu Hidayah
Oleh: Endang Wahyu Hidayah

RADARSEMARANG.COM – UPCARA adat suatu daerah tidak pernah luput dari sajian khas yang harus dihidangkan pada acara tersebut. Di Jawa Tengah khususnya terdapat adat atau kebiasaan yang dahulu sering diperingati oleh masyarakat Jawa . Setiap acara adat tersebut selalu diperingati dengan selamatan berupa penyajiaan macam macam hidangan khas yang harus ada. Namun kebiasaan ini lambat laun ditinggalkan oleh masyarakat Jawa dengan berkembangnya arus modernisasi, karena masyarakat modern lebih menyukai segala sesuatu yang praktis, masyarakat modern telah banyak dimudahkan dengan berkembangnya tren masakan baru yang simpel dan praktis dan banyak tersedia di kedai makanan, katering, rumah makan, atau restoran .Oleh karena itu, diperlukan suatu upayaa yang dapat melestarikan tradisi kuliner Jawa tersebut agar tradisi yang merupakan kekayaan budaya jawa itu tetap ada .

Hidangan Kesempatan Khusus disingkat HKK adalah salah satu kompetensi yang diperoleh siswa kelas XII Jurusan Jasa Boga. Dalam kompetensi HKK terdapat Kompetensi Dasar Hidangan Kesempatan Khusus Untuk Adat Istiadat. Kompetensi dasar ini mengupas tentang berbagai makanan khas yang menyertai tradisi atau acara adat Istiadat berbagai peristiwa kehidupan dalam  masyarakat suatu daerah yang mengambil tradisi Jawa.

Masyarakat Jawa memiliki tradisi memperingati 3 peristiwa kehidupan diawali dengan selamatan kelahiran, selamatan menyambut pernikahan, dan selamatan memperingati kematian. Pada acara selamatan tersebut selalu ada bermacam macam hidangan khas yang disajikan. Dalam tulisan ini mengambil contoh selamatan menyambut kelahiran. Ada beberapa acara selamatan yang bersama dengan doa dipercayai akan memberi keselamatan pada janin dan ibunya apabila dilaksanakan.

Diawali dengan acara Ngapati atau peringatan janin 4 bulan, dalam acara ini harus ada hidangan yang berupa ketupat dengan berbagai bentuk, juga ada nasi kuning, apem dan kebo siji yang mengandung filosofi bahwa pada usia janin 4 bulan telah mulai terdapat ruh pada janin dalam kandungan ibunya. Kemudian Pitonan atau dikenal juga dengan istilah Tingkeban yaitu acara selamatan tujuh bulan janin dalam kandungan. Pada acara ini, ada hidangan tumpeng urap berjumlah tujuh dengan pelengkap sayuran urap dan berbagai lauk, tumpeng robyong, emping ketan,penyon, sampora, jajan pasar dan yang tidak boleh ketinggalan ada bubur procot hidangan tersebut sebagai simbul kekuatan dan kesuburan dan bubur procot  sebagai perlambang agar janin kelak dilahirkan dengan lancar tidak ada halangan.

Selamatan ketika bayi lahir dikenal dengan brokohan dalam selamatan ini dihidangkan sayur urap,telur mentah jumlahnya disesuaikan dengan neptu/weton, bubur merah, dawet, pecel pitik dan jangan menir dan yang terakhir untuk selamatan bayi lahir ada acara Tedhak Siten atau tradisi turun tanah.

Selamatan Tedhak Siten diadakan masyarakat Jawa ketika bayi mulai bisa berjalan. Dalam acara selamatan ini ada ritual bayi berjalan melewati hidangan jadah 7 warna. Jadah tersebut melambangkan warna kehidupan yang akan dilalui oleh bayi ketika dewasa.juga disiapkan kurungan ayam yang di dalamnya terdapat buku, uang, alat kesehatan, pena, dan sebagainya sebagai perlambang profesi yang akan dimiliki si bayi setelah dewasa.  Penjelasan tersebut hanya mengupas satu adat yang diperingati masyarakat Jawa dalam menyambut kelahiran, dan  masih banyak lagi tradisi Jawa yang lain .

Dengan mempelajari masakan daerah yang terdapat dalam tradisi kuliner Jawa Tengah ini siswa menjadi tahu berbagai acara dengan masakan khas daerah dan juga mengenal dan mempraktekkan cara pembuatan berbagai masakan daerah yang sekarang ini jarang ditemui, dengan kompetensi HKK siswa dibekali tentang pengetahuan dan keterampilan tentang apa,bagaimana, masakan yang harus ada, perlengakapan yang harus ada untuk berbagai tradisi kuliner jawa.

Setelah lulus diharapkan mereka dapat mengangkat tradisi jawa ini dalam wirausaha boga di mana jika konsumen atau masyarakat akan mengadakan acara selamatan tradisi jawa mereka bisa siap memberikan jasa terbaik dan masyarakat tidak perlu kesulitan.  Maka dengan kompetensi HKK ini siswa memiliki bekal untuk  nguri nguri tradisi kuliner Jawa karena mereka tidak hanya menjadi tahu tentang masakan daerah tetapi juga mengetahui tradisi atau kebiasaan masyarakat jawa yang merupakan budaya peninggalan nenek moyang yang harus dilestarikan. (igi2/aro)

Guru Jasa Boga SMK Negeri 1 Salatiga

Silakan beri komentar.