Motivasi Belajar vs Kebijakan Pendidikan

158
Oleh: Johan Ananto Trilaksono SPd
Oleh: Johan Ananto Trilaksono SPd

RADARSEMARANG.COM – MASIH terngiang bagaimana saya sebagai guru memberikan motivasi bagi peserta didik yang saya ajar dengan kalimat “Siapa yang mau masuk ke sekolah X?” serta merta beberapa peserta didik dengan rasa percaya diri mengacungkan tangannya mengingat sekolah tersebut adalah sekolah yang diunggulkan dan menjadi favorit di kota di mana saya tinggal.  Dengan adanya keinginan peserta didik untuk masuk ke sekolah dengan katagori favorit dan unggulan merupakan sebuah motivasi pada diri peserta didik agar mau bersaing untuk meraih nilai semaksimal mungkin sehingga peluang untuk masuk ke sekolah tersebut semakin besar. Namun itu tiga tahun yang lalu ketika kebijakan zonasi belulm diberlakukan.

Menumbuhkan motivasi belajar dan bersaing pada diri peserta didik diperlukan untuk menumbuhkan kemauan berusaha dan menjadi yang terdepan serta terbaik, sehingga terlahirlah sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing dan berdaya guna.

Diakui atau tidak, persaingan selalu terjadi dimanapun kita berada, maka pembiasaan dalam persaingan bisa dilakukan semenjak dini, baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam dunia pendidikan. Pada kurikulum-kurikulum sebelumnya persaingan antar peserta didik diciptakan dengan adanya perankingan yang muncul pada rapor. Sebuah kebanggaan pada diri peserta didik bila ia meraih ranking atas dan menjadi cambuk bagi peserta didik yang meraih ranking bawah untuk berusaha lebih agar mampu merubah posisi rankingnya di semester depan.

Persaingan selanjutnya terjadi ketika pendaftaran peserta didik baru pada jenjang pendidikan lanjutan. Peserta didik akan termotivasi belajar untuk meraih nilai yang maksimal agar ia dapat masuk ke sekolah yang diidam-idamkan.

Memang benar bila dikatakan motivasi bisa dilakukan dengan cara lain, selain persaingan. Motivasi bisa dimunculkan dari rasa ingin tahu, kebersamaan dan pengakuan. Membuka semua peluang motivasi yang ada pada diri peserta didik akan lebih memaksimalkan proses belajar. Keberhasilan dalam belajar dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Kemauan belajar harus ditumbuhkembangkan dari dalam diri peserta didik memalui motivasi-motivasi yang membangun. Kemauan bersaing, rasa ingin tahu, kebersamaan, dan pengakuan perlu ditanamkan pada diri peserta didik, sehingga semangat untuk belajarnya terus ada. Apabila salah satu pintu motivasi ditutup, maka akan mengurangi faktor intrinsik dan ekstrinsik yang mampu memicu penurunan semangat belajar yang berdampak pada penurunan nilai hasil belajar.

Merujuk pada penurunan nilai hasil belajar peserta didik, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kebijakan yang telah diberlakukan, seperti pemberlakuan kriteria ketuntasan minimal (KKM) dan yang terbaru adalah kebijakan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru. Niat baik memang selalu hadir dalam setiap kebijakan, namun ada baiknya bila kebijakan-kebijakan tersebut dievaluasi pada kurun waktu tertentu.

Kebijakan KKM menginginkan ketuntasan belajar pada peserta didik dengan regulasi yang telah diatur, sehingga peserta didik dengan kemampuan terendah akan memperoleh nilai minimal yang telah ditentukan. Sedangkan kebijakan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru bertujuan menghilangkan istilah sekolah favorit dan unggulan. Sehingga semua sekolah memiliki input yang sama. Dengan zonasi tidak ada lagi kecemburuan pada sekolah yang dikatakan unggul karena memiliki input peserta didik dengan nilai yang tinggi. Sedangkan sekolah pinggiran memiliki input peserta didik dengan nilai rendah. Sistem zonasi diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang kreatif pada masing-masing sekolah, sehingga memunculkan hasil akhir yang maksimal.

Kedua kebijakan tersebut secara tidak langsung menutup pintu motivasi pada diri peserta didik untuk bersaing. Dampak dari kebijakan pemberlakuan KKM dan zonasi pada hasil belajar peserta didik perlu dikaji. Hilangnya kompetensi dalam pendidikan perlu untuk dicermati dan diteliti, sehingga dapat dijadikan rujukan untuk tindak lanjut dari kebijakan tersebut. Hilangnya kemauan untuk bersaing pada diri peserta didik dapat berdampak pada penurunan kemauan untuk belajar dan berujung pada hasil akhir yang menurun. Maka muncul pertanyaan “apakah kebijakan tersebut mampu menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh, berdaya guna, dan mampu bersaing?”(igi2/aro)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga