Mengendalikan Amarah, Mewujudkan Stabilitas Emosi

68
Oleh: Siti Muharnik, M.Pdl
Oleh: Siti Muharnik, M.Pdl

RADARSEMARANG.COM – TIDAK memandang usia maupun jabatan, tentu semua orang pernah merasakan marah, bahkan mungkin tidak jarang merasakan kemarahan dan emosi yang memuncak hingga ubun – ubun. Wwajah memerah, jantung berdetak lebih cepat, bahkan lidah terasa kelu untuk berkata – kata.

Tidak sedikit pula, orang–orang yang kalap hingga melakukan keburukan pada saat marah. Ada juga yang merusak barang atau bahkan melakukan kekerasan, seperti menyakiti orang lain. Padahal, amarah itu sangat mungkin bisa menjadi “hadiah” buat kita. Yaitu, manakala kita mampu menahannya.

Sifat marah merupakan tabiat yang tidak mungkin luput dari diri manusia. Karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan enggan untuk diselisihi keinginannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah”. Bersamaan dengan itu, sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka. Karena dengan kemarahan, seseorang bisa menjadi gelap mata. Sehingga bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya.

Karena itu, hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa, meski mereka tidak luput dari sifat marah, namun karena mereka selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsu, maka mereka pun selalu mampu meredam kemarahan mereka karena Allah Ta’ala.

Salah besar jika seseorang merasa kuat hanya karena pandai bergulat atau kebal senjata tajam. Manusia terkuat adalah mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika dalam keadaan marah. Mengapa demikian? Karena ketika kita dikuasai amarah, logika berpikir seolah terbakar sehingga seseorang tak dapat berpikir dengan baik, maka jika ia mampu tetap mengendalikan diri dan tidak melampiaskan amarahnya pada tempat keliru, sesungguhnya ia adalah sosok yang kuat.

“Orang yang paling kuat bukanlah orang yang tak dapat dikalahkan oleh orang lain. Tetapi orang yang paling kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika ia sedang marah. (HR. Muslim No.4723). “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)

Penelitian dari University of California San Diego tahun 2012 menemukan bahwa orang-orang yang bisa melepaskan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.

Selain itu, salah satu hal yang berisiko menyebabkan kematian dini adalah marah. RIset dari Lowa State University menunjukkan 25 persen orang yang suka marah memiliki risiko kematian 1,57 kali lebih besar dibanding mereka yang lebih sedikit merasa marah. Penelitian diambil dari 1.307 pria yang telah dipantau selama 40 tahun. Subhanallah.

Penelitian dari University of California San Diego tahun 2012 menemukan bahwa orang-orang yang bisa melepaskan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang lain cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah. Pada penelitian itu, 200 relawan diminta memikirkan saat temannya menyinggung perasaan. Separuh relawan diperintahkan untuk berpikir mengapa hal tersebut bisa membuatnya marah. Separuh lainnya didorong untuk memaafkan kesalahan tersebut.

Worthington Jr, Pakar Psikologi di Virginia Commonwealth University AS, mempublikasikan hasil penelitiannya pada 2005 di jurnal ilmiah Explore. Pada penelitian hubungan antara memaafkan dan kesehatan itu ditemukan, sikap memaafkan mendatangkan manfaat kesehatan. Dengan menggunakan tekonologi canggih, terungkap perbedaan pola gambar otak orang pemaaf dan yang tidak memaafkan. Orang yang tidak memaafkan atau terbawa kemarahan dan dendam, ditemukan mengalami penurunan fungsi kekebalan tubuh, tekanan darah lebih tinggi, ketegangan otot, dan detak jantung. (*/isk)

Guru SMPN 5 Blora

Silakan beri komentar.