Harga Daging Ayam Mulai Naik

273
DAGING AYAM : Petugas Laboratorium Kesehatan (Labkes) Kota Magelang menunjukkan urat pada leher ayam yang tidak terputus, sehingga warna daging ayam sedikit kebiruan akibat darah yang tidak keluar dengan sempurna. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
DAGING AYAM : Petugas Laboratorium Kesehatan (Labkes) Kota Magelang menunjukkan urat pada leher ayam yang tidak terputus, sehingga warna daging ayam sedikit kebiruan akibat darah yang tidak keluar dengan sempurna. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Beberapa jenis kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) di pasar-pasar tradisional Kota Magelang terpantau naik oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang. Di antaranya cabai teropong yang menyentuh harga rata-rata Rp 39.333 per kilogram atau naik sekitar 7,2 persen dari harga sebelumnya, rawit hijau naik 2,3 persen atau harga rata-rata per kilogram menyentuh Rp 29.667.

Sedangkan harga ayam ras, naik 1,84 persen. Harga rata-ratanya mencapai Rp 37.000 per kilogram. Namun demikian, di tiga pasar tradisional, Gotong Royong, Kebonpolo dan Rejowinangun, memiliki harga jual berbeda. Terendah Rp 36.000 ribu dan tertinggi Rp 38.000 per kilogram. Sementara harga daging sapi murni (has) dan sapi kualitas 1 masih tetap sama.

Kabid Perdagangan, Disperindag Kota Magelang Sri Rejeki Tentamiarsih mengatakan, harga-harga tersebut bisa dipantau oleh masyarakat melalui papan informasi digital yang berada di depan kantor dinas setempat. “Sampai dengan H-1 Lebaran, harga-harga kepokmas masih terus diperbarui,” katanya, Senin (11/6).

Pedagang daging ayam Pasar Rejowinangun, Evin mengatakan, kenaikan harga daging ayam tidak bisa diprediksi. Berbeda dari tahun sebelumnya, harga daging naik mulai malam ke-21 puasa. Sekarang, harga berubah-ubah sejak awal puasa.

“Awalnya Rp 28.000, jadi Rp 30.000 ribu kemudian berubah cepat jadi Rp 34.000 per kilogram pada Kamis (7/6) lalu. Kemungkinan masih naik terus, karena sebelum malam selikuran (hari ke-21 puasa, red) sudah naik,” akunya.

Warga Tidar Krajan ini mengungkapkan, kenaikan harga daging sudah terjadi di tangan pemasok. Ia juga tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi karena takut penjualannya akan menurun. “Imbas dari naiknya harga daging, tentu saja keuntungan jadi sedikit. Tapi permintaan saat puasa memang meningkat, karena saya melayani untuk kebutuhan rumah makan dan instansi-instansi. Bisanya bisa menjual 1,2 kuintal, sekarang 1,5 kuintal per hari,” bebernya. (put/ton)