Festival Ngangklang Jadi Magnet Ribuan Warga

299
MERIAH: Lomba Festival Ngangklang Gus Alam Cup IV yang digelar di halaman Balai Desa Kutoharjo, Kaliwungu, Minggu (10/6) malam. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERIAH: Lomba Festival Ngangklang Gus Alam Cup IV yang digelar di halaman Balai Desa Kutoharjo, Kaliwungu, Minggu (10/6) malam. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Festival Ngangklang Gus Alam yang dihelat setiap akhir 26 Ramadan, jadi magnet warga. Ribuan warga Kaliwungu dan sekitarnya, tumplek-blek di Alun-Alun Kaliwungu untuk menyaksikan lomba  ngangklang dengan iring-iringan drum blung ataupun drum blek.

Ngangklang sendiri merupakan tradisi orang muslim di Kaliwungu untuk membangunkan umat muslim lainnya untuk bersantap sahur. Dimana biasanya ngangklang sendiri dilakukan dengan membunyikan alat musik tradisional.

Maraknya tradisi ngangklang inilah yang kemudian melatarbelakangi Festival Ngangklang Gus Alam Cup ke IV.

“Ini adalah budaya yang luar biasa milik bangsa ini. Jadi saya berusaha untuk mempertahankannya agar tidak hilang, sehingga setiap puasa di Kaliwungu bisa semarak,” kata Alamuddin Dimyati Rais selaku penggagas lomba tersebut, Minggu (10/6) malam.

Anggapan ngangklang terkesan berisik dan menimbulkan suara bising, mulai ditepis. Sebab, suara yang tak beraturan atau tak berirama digantikan dengan drum blek dan drum blung. Drum blek yakni paduan marching band menggunakan blek atau panci bekas dan alat rumah tangga. Sedangkan drum blung adalah marching dengan dengan menggunakan tong plastik yang biasa digunakan untuk tempayan air sebagai alat musik utamanya.

“Saya berharapnya festival ngangklang ini bisa sampai ke tingkat nasional atau internasional. Karena ini budaya yang unik asli dari Kendal, khususnya Kaliwungu. Makanya tahun depan saya ingin meningkatkan lomba ke tingkat Jawa Tengah,” anggota DPR dari Fraksi PKB itu.

Sebelum dilombakan, para peserta sebelumnya diarak dari depan Pasar Gladag menuju balai desa melewati Jalan Kiai Ashari. Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan festival tersebut sangat tinggi. Ribuan orang memadati halaman balai desa dan sepanjang jalan menuju Alun-Alun Kendal dan Balai Desa Kutoharjo.

Salah satu pengunjung Festival. Lukito mengatakan, festival ngangklang ini menghilangkan kesan klotekan yang negatif. Dimana musik tak beraturan dan  membikin bising. “Tapi setelah dikemas drumblek seperti ini menjadi lebih menarik dan memiliki nilai jual tinggi,”  ucapnya. (bud/zal)