Ber-Islam dengan Santun

124
Oleh: Muhammad Nur Mukhayya
Oleh: Muhammad Nur Mukhayya

RADARSEMARANG.COM – NABI Muhammad SAW selalu mengajarkan dan memberi teladan kepada umatnya agar bersikap lebih santun dalam menyampaikan seruan kebenaran atau berdakwah. Beliau juga mengajarkan sikap kesantunan dalam keseharian, seperti di rumah tangga. Nabi Muhammad SAW mencontohkan di saat berkunjung ke keluarga, beliau mengucap salam, wajahnya berseri, dan senantiasa tersenyum. Nabi Muhammad SAW juga tidak pernah bersikap kepada istri-istri beliau, apalagi sampai dengan memukul.

Ketika datang ke sebuah majelis, Nabi Muhammad SAW selalu duduk di tempat yang masih tersedia, tidak pernah meminta orang lain bergeser apalagi menyuruhnya bangkit dan menyingkir. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang pemimpin besar Islam, beliau mempunyai wewenang untuk dihormati dan dihargai oleh orang sekelilingnya, namun Nabi Muhammad SAW tidak melakukan semua itu. Dengan sikap santun dan kerendahan hati tersebut, menunjukkan betapa Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi kita semua.

Sikap santun tersebut, dipertegas dalam Alquran surat al-Qhasash ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Berjejak dari ayat yang disebutkan di atas, jika manusia mau memahami sikap santun lebih dalam, maka dapat diperhatikan sifat-sifat Tuhan yang berjumlah 99, yaitu salah satunya Allah Maha Pemurah. Konsep bahwa Allah Maha Pemurah sangat penting dalam kehidupan ber-Islam. Kemahamurahan Tuhan mempengaruhi kaum muslimin ketika melakukan hubungan sosial dan yang lainnya. Jika Allah memiliki sifat pemurah, secara logika manusia juga menunjukkan rasa kemurahannya kepada sesama makhluk Allah. Sikap murah hati di dalam Islam memberikan sentuhan rasa aman dan tenteram, sehingga terciptalah kehidupan yang santun dalam bermasyarakat. Jika manusia memiliki kemurahan dengan cara mereka masing-masing maka kehidupan di dunia akan damai.

Islam yang santun, tidak bisa mengelak sesungguhnya merupakan pembuktian nilai-nilai kemanusiaan untuk merangkul semua lapisan masyarakat. Karena manusia percaya bahwa, agama didesain oleh yang Maha Suci. Sifat itu merupakan transformasi dari sifat-sifat Allah ke dalam diri manusia untuk semua manusia, bukan untuk Tuhan itu sendiri atau sekelompok kecil umat manusia yang terpilih sebagai nabi atau utusan-Nya. Mereka melihat citra dan bayangan Yang Maha Suci dalam diri manusia juga terpancar dalam diri manusia dan alam semesta. Semoga kita mampu melahirkan kesantunan dalam setiap aktivitas keseharian kita. (*)

Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang