Ambil Untung Sedikit, Yang Penting Pembeli Banyak

Mereka yang Menuai Untung dari Bisnis Musiman Kue Lebaran

2277
BISNIS MUSIMAN: Lorena Okky Ristianasari (kanan) dan Ekha Fitria yang meraup untung dari reseller kue lebaran. (Nurchamim/ Jawa Pos Radar Semarang)
BISNIS MUSIMAN: Lorena Okky Ristianasari (kanan) dan Ekha Fitria yang meraup untung dari reseller kue lebaran. (Nurchamim/ Jawa Pos Radar Semarang)

Jelang lebaran menjadi berkah tersendiri bagi pelaku bisnis kue lebaran. Tak tanggung-tanggung, keuntungan yang diraup cukup besar. Dua hari jualan, bahkan mampu menarik ratusan pembeli.

SIGIT ANDRIANTO/NURUL PRATIDINA

RADARSEMARANG.COM – AWALNYA Lorena Okky Ristianasari hanya iseng mem-posting foto kue lebaran yang dijual kenalannya. Tak tahunya, posting-an perempuan yang akrab disapa Riris ini justru berbuah orderan dari sejumlah kenalannya lewat personal chat di akunnya. Senanglah dia.

”Awalnya memang posting di WhatsApp dan Instagram. Lalu temen-temen pada nge-chat aku mau dong, gitu. Kebetulan saya punya banyak teman dan kenalan juga,” ujar perempuan yang mengaku tergabung di komunitas foto ini.  ”Kemarin juga ada yang minta dibentuk parsel. Satu parsel Rp 200 ribu,” tambahnya.

Hari pertama menjadi reseller, Riris mampu menerima ratusan pesanan. Ia mengaku mengambil keuntungan sebesar Rp 20 ribu untuk setiap toples kue yang dijualnya. Hari kedua, ia justru menurunkan keuntungan menjadi Rp 10 ribu per toples.

”Kalau saya sih ambil untungnya sedikit saja, yang penting pembelinya banyak. Bahkan setelah itu masih ada yang pesan, tapi sayangnya sudah close order,” ujar perempuan yang dua hari jualan sudah meraup untung Rp 1,3 juta ini.

”Saya juga nyesel karena jualannya hanya dua hari saja,” imbuh perempuan yang mengaku sedih karena harus menolak banyak pesanan akibat nihil stok ini.

Tidak hanya dari Semarang, pemesan kue lebaran yang dijual datang dari kota-kota tetangga. Seperti Semarang, Solo, Jogja, dan Pati. Untuk pesanan luar kota, ia mengantarkannya melalui paket. Sementara untuk dalam kota, ia mengantarkannya sendiri dengan cara COD (cash on delivery). ”Jadinya malah lebih seneng karena bisa ketemu banyak orang. Dari situ juga punya pelanggan baru ketika ada barang lain yang saya jual,” jelas perempuan yang tahun ini lulus dari SMKN 6 jurusan perhotelan ini.

Dunia jual-menjual memang bukan kali pertama dilakukan Riris. Sejak masuk SMK, gadis kelahiran Semarang, 2 Oktober 1999 ini sudah menekui jual beli online atau lebih dikenal dengan istilah olshop. Ia menjual berbagai macam barang, seperti make up, baju, serta aksesoris.  ”Pokonya setiap ada kesempatan ya diambil. Selama ada peluang kenapa enggak. Pokoknya jangan pernah malu untuk COD sana-sini. Zaman sekarang banyak yang gengsi kan. Ngapain harus gitu kan,” ungkap warga Karangayu ini.

Riris menceritakan, sebagian kemampuan berwirausaha ini diperolehnya dari pelajaran di sekolah dulu. Dikatakan, di sekolah ia juga diajari bagaimana untuk bisa mandiri dengan cara membuka usaha. ”Ada mata pelajaran wirausaha. Jadi, sedikit banyak dipraktikkan juga,” ujarnya.

Ke depan, gadis yang juga akrab dipanggil Rista ini ingin menjadi wirausahawan sukses. Tentunya dengan usaha yang lebih besar. Tampaknya, jiwa wirausaha memang sudah melekat pada pemilik akun Instagram @Okkyrist ini. ”Ini nanti kan rencananya mau kuliah sambil kerja. Setelah itu mungkin bisa ngembangin usaha yang lebih besar,” kata dia.

Berkah jelang lebaran juga dirasakan Fista Novianti. Ibu dua putri ini juga berbisnis kue-kue kering klasik seperti nastar, kastengel, putri salju hingga kue-kue kering modifikasi yang sedang in, salah satunya kue ulet. Sedangkan untuk snack lebih beragam, di antaranya eggroll, soes, dan wafer. “Untuk kue kering kami produksi sendiri, sedangkan snack kami menjadi reseller,”ujarnya.

Ia mengaku, lebaran kali ini merupakan tahun pertama dirinya dan salah seorang rekan mencoba usaha snack dan kue kering. “Kami tertarik karena jelang lebaran biasanya permintaan kue kering tinggi,”katanya.

Fista –sapaannya—memasarkan produknya lewat sosial media. Hasilnya cukup baik. Tak hanya rekan maupun tetangga yang mengorder produknya, sejumlah pelanggan baru juga banyak yang tertarik dan memesan.

“Sistemnya open order, di-list, lalu saya bikin kuenya. Uang ditransfer, baru kue dikirim dengan Gojek atau Grab. Kalau dekat bisa juga COD. Sistem tersebut untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kerugian. Jadi barang pasti habis,”jelasnya.

Selain menjual rasa, kemasan yang menarik juga diyakini menjadi daya tarik bagi para calon konsumen. Karena itu, ia juga menjual dalam bentuk parsel. Kue-kue dalam toples disusun dalam berbagai bentuk wadah yang dipercantik dengan pita dan lain sebagainya.

“Kalau hanya jual toplesan saja sudah banyak. Dengan bentuk parsel ini lebih menarik, karena juga bisa sebagai hantaran. Nah, parsel-parsel ini juga yang sejauh ini lebih laris. Melihat peluangnya, ke depan untuk snack juga akan kami teruskan, bukan hanya untuk usaha musiman saja,”ujar pemilik Alisa Snack ini.

Selain Fista, ada juga Ekha Fitria. Alih-alih menjadi produsen, ia memilih menjadi reseller. Ramadan ini merupakan tahun ketiga dirinya mengambil peluang di bisnis tersebut. Omzetnya pun lumayan. Setiap tahun ia bisa memasarkan antara ratusan hingga lebih dari seribu paket kue kering.

“Awalnya ditawarin teman untuk jadi reseller. Jadi, nggak usah bikin sendiri, hanya modal upload produk di sosial media, kemudian masukkan ke grup-grup WA saja. Ternyata banyak yang berminat dan pesan,”katanya.

Para perajian kue-kue lebaran pun semakin banyak yang memintanya untuk dipasarkan. Dari situ, muncullah idenya untuk membuat parsel lebaran yang terdiri atas beragam varian kue kering. Tak jauh beda dengan Fista, kue-kue lebaran tersebut lantas dikemas menjadi lebih menarik.

“Banyak yang tertarik, mulai dari perorangan sampai instansi. Untuk instansi sebagian ada yang minta kemas ulang, ditambah logo, diberi ucapan selamat Idul Fitri atau tambahan pernak-pernik lain sesuai dengan ciri khas perusahaan maupun instansi tersebut,” jelas warga Jalan Kenconowungu 1 No  23  RT 2 RW 1 Karangayu, Semarang ini.

Selain Semarang dan sekitarnya, pemesan juga sebagian berasal dari luar kota. Di antaranya Jogja dan Jakarta. Banyaknya pesanan tersebut, membuat Ekha melibatkan keluarga dan tetangga sekitar untuk membantu proses pengemasan.

“Pengemasan butuh waktu dan ketelatenan, apalagi kalau sudah ada yang pesan sampai ratusan paket. Karena itu, kami kerahkan suami, tetangga maupun saudara. Mereka juga bisa ikutan bantu memasarkan, nanti dapat diskon. Tidak apa untung sedikit, yang penting bisa berbagi bersama,”kata ibu dua putra ini.

Karena, menurutnya, usaha tersebut juga berjalan lancar karena memiliki banyak teman dan relasi. “Teman-teman ini biasanya lihat dari story di IG maupun status di WA. Salah satu untungnya punya teman banyak, mereka juga pasti pesan,”ujarnya sambil tersenyum.(*/aro)