Pesta Terlama Sepanjang Sejarah

255
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.COM – DUA kendaraan melintas kencang di jalur Pantura Rembang. Yang satu Toyota Kijang. Yang lain Honda CRV. Di atas Toyota ada barang yang dibungkus dengan terpal warna biru. Sedangkan di atas CRV terikat barang dengan bungkus cover mobil warna abu-abu. Perkiraan saya, penumpangnya adalah pemudik menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439 H.

Saya mencoba mengejarnya. Kecepatan kira-kira 80 kilometer per jam. Saya yang dari Kudus menuju Surabaya memacu mobil Nissan Evalia yang saya kendarai. Sempat membuntuti beberapa saat. Kemudian saya salip dengan kecepatan 90 kilometer per jam. Terlihat penumpang kedua mobil tersebut penuh.

Saya sudah melihat banyak mobil dengan bagasi di atas kap yang mestinya tidak diperbolehkan itu sejak Jumat. Ketika itu saya berkeliling silaturrahim ke rumah-rumah karyawan di Semarang. Dari Tembalang sampai Ungaran. Melalui berbagai jalur. Termasuk dua kali masuk tol. Sempat terjadi kemacetan panjang di pintu masuk Kota Semarang dari arah Jakarta.

Di gardu tol Srondol, kemacetan hingga sekitar satu kilometer. Di jalur entry sekitar setengah kilometer. Kendaraan campur aduk. Pemudik sudah menjejali jalanan lintas Jakarta – Surabaya. Sementara itu, kendaraan angkutan barang belum dihentikan. Rupanya arus mudik mendahului penghentian operasional truk besar. Ini sangat rawan terjadi kemacetan.

Kemarin malam ketika saya dari Kudus menuju Surabaya juga merasakan adanya peningkatan arus lalu lintas di jalur Pantura Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Saya sempat dag dig dug. Bahkan sempat nggerundel. Banyak truk besar beroperasi. Mestinya truk dilarang melintas selama libur lebaran. Untung kekhawatiran saya tidak terbukti.

Rupanya mudik lebaran kali ini lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab, libur lebaran plus cuti bersama diperpanjang. Dari 11 – 19 Juni. Berhubung tanggal 10 hari Sabtu, praktis Jumat menjadi hari kerja terakhir. Inilah libur lebaran terpanjang selama ini. Pesta pun akan berlangsung lama. Masyarakat menikmati.

Bagi saya, libur sepanjang itu adalah beban tersendiri. Perusahaan sudah menetapkan koran tidak terbit hanya dua hari. Yaitu, hari H Lebaran dan H+1 (15-16 Juni). Berarti karyawan di bagian redaksi harus masuk kerja di saat karyawan perusahaan lain dan para pegawai negeri menikmati libur panjang.

‘’Kami yang di bidang pelayanan juga cenut-cenut,’’ kata Komeng, General Manajer PLN Pembangkitan Tanjung Jati B Jepara. Saya bertemu beliau saat menghadiri Festival Ramadan yang diselenggarakan di Desa Kaliaman, Kembang, Jepara, Rabu, 6 Juni 2018 lalu.

Saat masyarakat sedang libur itu, karyawan PLN justru siaga. Listrik tidak boleh terganggu. Sementara itu, produksi harus diturunkan drastis. Kalau sampai mati, masyarakat mencaci maki. Itulah sebabnya, pegawai PLN harus kerja ekstra keras justru di saat masyarakat menikmati liburan.

Kesibukan seperti itu juga dialami karyawan bidang pelayanan lainnya seperti telekominikasi, angkutan penumpang, rumah sakit, pusat-pusat perbelajaan, dan hiburan.

Tanda-tanda lebaran kali ini akan meriah bukan hanya terlihat di jalan raya. Selama berkeliling dari Semarang – Kendal – Batang – Pekalongan – Ungaran – Magelang –Temanggung – Wonosobo – Salatiga – Demak – Jepara – Kudus – Pati – Rembang, sudah kelihatan kesibukan masyarakat. Di satu kampung di Pekalongan saya melihat banyak orang menjemur kelambu (korden) dan karpet. Di tempat lain banyak orang menjemur toples. Juga ada yang menjemur rengginang, jajanan khas lebaran.

Para pebisnis sudah memanfaatkan memomen idul fitri ini sejak awal Ramadan. Pesta diskon ada di mana-mana. Padahal, bisa jadi harga sudah dinaikkan sebelum dipotong harganya. Masyarakat terkecoh. Tapi, tetap menikmati. Kasihan juga.

Pasar-pasar murah juga bertebaran. Saya tertarik pasat murah di Kelenteng Hok Tik Bio Pati. Pengurus kelenteng itu menggelar kebutuhan lebaran dengan diskon 30 persen. Mereka ingin membantu umat Islam yang berlebaran. Inilah bentuk toleransi yang perlu terus dipupuk.

Perputaran bisnis saat lebaran ini bisa jadi akan berpindah sementara ke kota-kota kecil. Bahkan ke desa-desa. Masyarakat yang cerdas mesti memanfaatkannya. Saya melihat kecerdasasan masyarakat Bulung, Kudus. Setiap tahun ada festival lomban. Padahal di tempat itu sungai nyaris tak lagi mengalir, perahu juga tidak ada. Tetapi pesta rakyat tetap digelar. Demikian juga Bulusan di Jekulo. Bulusnya sendiri sudah tidak ada sejak lama.

Itulah idul fitri. Masyarakat tetap menyambutnya dengan pesta. Idul fitri menjadi budaya. Sementara itu, para khotib, kiai, dan dai terus mengumandangkan bahwa idul fitri adalah peningkatan ketaqwaan kepada Allah. (hq@jawapos.co,id)