Macam-Macam Salat Sunnah yang Dilaksanakan Berjamaah

209

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Pak Ustadz, mau tanya. Selain salat tarawih, halat sunah apa yang boleh dilaksanakan dengan berjamaah? Salat sunah apa yang bacaan Al-Fatihah dan surah yang mengikutinya diucapkan dengan agak keras? Benarkah ada salat sunah enam rakaat sesudah salat maghrib? Hadits salat Tasbih dan salat Arbain sangat lemah. Bagaimana hukumnya mengamalkan ibadah yang haditsnya lemah? Terima kasih atas penjelasannya.

Abdullah di Semarang, 085746647XXX

Waalaikumussalam Warahmatullah Bapak Abdullah di Semarang yang saya hormati dan dimuliakan Allah. Salat sunah yang dilakukan secara berjamaah ada banyak, antara lain salat Idul Fitri dan Idul Adha, salat Gerhana dan salat Istisqa’ (memohon turunnya hujan), semua itu i dilakukan dengan mengeraskan bacaan. Nabi SAW tidak pernah meninggalkan salat dua rakaat setelah Maghrib, biasanya membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlash pada rakaat kedua, yang surah masing-masing dibaca setelah membaca Al-Fatihah.

Betapapun kita tidak dapat melarang seseorang salat, apalagi dilaksanakan bukan pada waktu yang terlarang lebih-lebih ada dua riwayat melalui Anas bin Malik yang menafsirkan firman Allah SWT dalam QS As-Sajdah [32]: 16 bahwa sahabat-sahabat Nabi SAW sering salat sunah antara Maghrib dan Isya (HR. Abu Dawud). Bahkan At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa, “Siapa yang salat sesudah Maghrib dua puluh rakaat, maka Allah akan membangun untuknya rumah di surga”.

Waktu yang dinilai oleh ulama terlarang salat adalah sesudah salat Shubuh sebelum waktu Dhuha dan sesudah salat Asar sampai dengan masuknya waktu Maghrib. Adapun lainnya, pada prinsipnya tidak ada larangan untuk salat. Kendati demikian, mengikuti pengamalan Rasul SAW adalah lebih baik. Hadits tentang salat Tasbih diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab sahihnya. Akan tetapi Imam an-Nawawi mempertanyakan kesunahannya, antara lain karena beliau menilai haditsnya dhaif. Akan tetapi ada ulama lain yang menilainya shahih atau paling tidak hadits hasan, yakni nilainya sedikit lebih rendah dari hadits shahih. Betapapun demikian, mereka yang menilainya hadits lemah, tidak menghalangi seseorang melaksanakannya atas dasar bahwa hadits-hadits dhaif dapat diamalkan menyangkut amalan-amalan yang dimaksudkan sebagai keutamaan. Hadits salat Arbain di Madinah juga demikian. Sekian jawaban dari saya, semoga dapat bermanfaat dan barokah. Amin. (*)