POLDER BARU: Proyek pembuatan Polder Bubakan, Rejomulyo, Semarang Timur yang sudah dimulai sejak beberapa pekan lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
POLDER BARU: Proyek pembuatan Polder Bubakan, Rejomulyo, Semarang Timur yang sudah dimulai sejak beberapa pekan lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – NAMA Bundaran Bubakan cukup melegenda. Bundaran yang di tengahnya terdapat kolam dan air mancur itu merupakan pertemuan 5 jalan besar, yakni Jalan MT Haryono, Jalan KH Agus Salim, Jalan Cendrawasih, Jalan Sayangan, dan Jalan Pattimuraa Semarang.Namun tak lama lagi, Bundaran Bubakan akan berubah menjadi polder pengendali banjir dan rob.

Moch. Nasir, warga Kampung Batik Rejomulyo, tak jauh dari Bundaran Bubakan mengaku, belum mendapatkan informasi yang jelas tentang pembangunan polder tersebut. Namun ia sempat diberitahu Camat Semarang Timur mengenai rencana pengalihfungsian taman menjadi polder. Hanya saja, melihat proses yang berlangsung membuat mereka bertanya-tanya.

”Katanya memang akan dibuat polder, tapi ada yang lihat, kok itu malah ada alat berat meratakan lahan. Harusnya kalau memang mau dibikin polder kan justru dikeruk,” ujar Moch. Nasir, warga kampung Batik saat ditemui di kediamannya.

Pria yang dituakan di RT nya ini pun sangsi dengan luasan areal tersebut. Ia masih belum tahu apakah polder akan dibangun pada lahan yang dinilainya tidak terlalu luas tersebut. ”Harusnya kalau polder kan lebar dan luasnya. Masak luas segitu mau dibikin polder. Tapi yang pasti Pak Camat dulu bilangnya mau dibikin polder,” katanya.

”Tapi mungkin benar juga mau dibangun polder, melihat pembangunan gorong-gorong di Jalan Sendowo yang mengarah ke situ,” imbuhmya.

Sebenarnya warga tidak terlalu menuntut kepada pemerintah. Jika memang pembangunan polder ditujukan untuk mengatasi persoalan banjir, warga seratus persen mendukung. Warga hanya ingin agar pemerintah mempertimbangkan dengan matang jika memang bekas taman tersebut akan dibuat polder. ”Jangan sampai karena kapasitas kecil justru akan memberikan dampak merugikan. Misalnya saja meluber, atau katakanlah jebol,” ujar Nasir.

Selama dua tahun terakhir, kata dia, Kampung Batik memang sudah bisa dibilang bebas banjir. Kalaupun ada genangan, itu hanya berlangsung sesaat. Sehingga, secara pribadi ia justru ingin agar taman tersebut tetap menjadi taman dengan perawatan yang memadahi.

”Dulu kan taman air mancur, tapi tidak terawat. Kalau taman mungkin akan lebih bisa dimanfaatkan warga. Soalnya kan memang tidak terlalu luas untuk polder,” ujarnya berpendapat. ”Tapi ya kembali lagi. Kalau tujuannya memang untuk menanggulangi banjir, kami manut saja,” timpal Ketua RT 2 RW 2 Kelurahan Rejomulyo ini. (sga/aro)