Islam Agama Ramah Perempuan

237
Oleh: Siti Rofiah
Oleh: Siti Rofiah

RADARSEMARANG.COM – ANNGKA kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih cukup tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya. Dari Catatan Tahunan Komnas Perempuan terungkap selama 2017 ada 348.000 kasus, 335.062 di antaranya adalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 259.10 kasus.

Upaya mengakhiri kekerasan ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks, selain karena budaya patriarkhi yang begitu kuat di masyarakat, juga karena digunakannya justifikasi agama dalam membenarkan tindakan mereka.

Secara historis, diketahui bahwa Islam datang di saat kaum perempuan terdera dalam puncak keteraniayaan, yaitu suatu masa yang dikenal dengan istilah jaman ‘jahiliyyah’ (kebodohan). Jahiliyah dalam konteks ini bukan sekedar bodoh dalam arti lemah secara intelektual. Muhammad Fuad Abd al-Baqi dalam bukunya al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al-Karim mengartikan jahiliyah sebagai kondisi masyarakat yang mengacu pada tiga karakter, yaitu rasial, feodal dan patriarkhis.

Patriarkhisme pada jaman jahiliyyah memang sangat dominan. Perempuan pada masa itu dianggap hina, bahkan diragukan kemanusiaannya hingga dikira tidak bisa beribadah, tidak bisa mendapat pahala, dan tidak bisa masuk surga. Orang tua merasa malu jika yang lahir adalah perempuan, dan tidak sedikit dari mereka yang dikubur hidup-hidup. Jikapun diterima, perempuan dipandang sebagai barang yang dimiliki, bukan manusia yang bermartabat. Perempuan dinikahkan secara paksa pada masa kanak-kanak, diceraikan semena-mena, digantung tanpa cerai atau tetap dalam pernikahan, dipoligami tanpa batas, dijadikan jaminan hutang, dihadiahkan kepada tamu, dan tidak diberikan peran sama sekali dalam urusan sosial. Keadaan ini digambarkan Alquran di dalam surat al-Nahl/16 ayat 58-59.

Muhammad membawa risalah dan memperjuangkan penegakan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Perempuan yang pada jaman jahiliyah diragukan kemanusiaannya dijawab tegas oleh Alquran bahwa perempuan adalah manusia (QS. al-Hujuraat, 49:13), perempuan yang tadinya dianggap bisa beribadah dan memperoleh pahala dijawab melalui QS. an-Nahl, 16:97, perempuan juga bisa masuk surga sebagaimana dijelaskan dalam QS.  an-Nisaa’, 4:124, dan perempuan tidak memiliki perbedaan dengan laki-laki karena ruhnya kekal dan dimintai pertanggungajwaban oleh Allah SWT (QS. al-An’aam, 6:94).

Deklarasi kemanusiaan perempuan ini diiringi dengan perubahan-perubahan dengan strategi memanusiakan perempuan langsung menuju “Sasaran Akhir”. Misalnya, penghapusan total atas tradisi penguburan bayi perempuan hidup-hidup (QS. an-Nahl, 16:58-59), kebiasaan mewariskan perempuan (QS. an-Nisaa’, 4:19), perkawinan sedarah (QS. an-Nisaa’, 4:23), dan pemaksaan pelacuran pada perempuan (QS. an-Nuur, 24:33).

Dus, Islam bukanlah agama yang diskriminatif, tapi pemahaman yang salah atas teks-teks Islam seringkali melahirkan pandangan yang diskriminatif. Perilaku diskriminatif terhadap perempuan adalah sisa tradisi jahiliyah, sementara perilaku simpatik, empatik, dan kerjasama adalah prinsip dan ajaran utama, yang meneguhkan Islam sebagai agama ramah perempuan. (*)

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang