RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sebanyak 52 pasar tradisional di Kota Semarang mendekati Lebaran terus dilakukan pemantauan. Dinas Perdagangan Kota Semarang menerjunkan sebanyak 40 personel keamanan dan ketertiban (Kamtib) untuk pengamanan pasar selama Lebaran.

Mereka akan melakukan pemantauan mulai H-3 hingga H+3. Dari jumlah 52 pasar tradisional tersebut, ada tiga titik pasar tradisional yang rawan terjadi pasar tumpah. Ketiga pasar tersebut adalah Pasar Karangayu, Pasar Mangkang, dan Pasar Genuk.

“Ada 52 pasar, pengamanan pasar selama Lebaran kami siapkan petugas keamanan dan ketertiban  dengan dijadwalkan piket. Mulai H-3 hingga H+3, kami jadwalkan untuk memantau kelancaran pasar,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Sabtu (9/6).

Dikatakannya, pihaknya mengaku telah memerintahkan kepada para kepala pasar di 52 pasar tradisional untuk terus memantau perkembangan. “Kami perintahkan kepada kepala pasar untuk melarang terjadinya pasar tumpah. Toh, apabila mereka mremo silakan pas H+1 Lebaran, setelah itu harus bersih,” katanya.

Ia mewaspadai, sejumlah titik yang berpotensi terjadi pasar tumpah. Di antaranya Pasar Karangayu, Pasar Mangkang, dan Pasar Genuk. “Sedangkan di Pasar Mrican sekarang sudah tidak terjadi. Hanya ada tiga titik yang diwaspadai. Sampai saat ini tidak terjadi pasar tumpah. Semua sudah tertib,” ujarnya.

Sebanyak 40 personel telah dibentuk dan dibagi. Setiap regu ditugaskan sebanyak 5 personel. “Sehari dua shift. Namun pengamanan yang krusial untuk pasar tradisional hanya di pagi hari hingga pukul 09.00. Sedangkan untuk pengamanan toko tidak ada masalah, karena biasanya mereka memiliki sekuriti sendiri,” katanya.

Mengenai stabilisasi harga di pasar tradisional, kata Fajar, sejauh ini tidak ada masalah. “Kami akan terus mengontrol harga kebutuhan bahan pokok agar tidak terjadi kenaikan. Sejauh ini, kami sudah melakukan operasi pasar di 32 titik pasar tradisional. Memang kami tekankan ke semua pedagang jangan sekali-kali menjadi spekulan. Sejauh ini semua harga kebutuhan pokok normal semua, kecuali daging ayam,” ujarnya.

Tetapi kenaikan harga daging ayam tersebut dianggap masih dalam kondisi wajar. “Kami anggap wajar, karena kenaikannya kurang lebih Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu. Sampai Lebaran harus stabil. Nanti H-2 Lebaran, kami akan terjun lagi melakukan operasi pengendalian harga kebutuhan pokok,” katanya.

Fenomena yang ditemukan, kata Fajar, sejauh ini ternyata setelah dilakukan pengecekan harga sejumlah kebutuhan pokok di mal lebih murah dibanding harga kebutuhan pokok di pasar tradisional. “Kami mengecek sembilan mal, ternyata harga kebutuhan pokok malah justru lebih rendah dengan kisaran Rp 1.000 hingga Rp 2.000,” katanya.

Hal ini cukup memengaruhi masyarakat untuk berbelanja ke mal. Sebab, selisih lebih mahal senilai Rp 500 saja di masyarakat akan sangat berpengaruh. “Saya kira ini menjadi salah satu sebab mengapa masyarakat banyak memilih ke mal. Mal memang memiliki stok banyak. Sedangkan di pasar tradisional tidak. Kami sampaikan bahwa pedagang kami di pasar tradisional bersaing secara alami. Selisihnya sedikit kok,” ujarnya.(amu/aro)