Seni Gunting Tempel Bahan-Bahan Sisa Menjadi Karya

Lebih Dekat dengan Kelompok Seni Independen ‘Kolasemauku Kolektif’

107
KREATIF: Anggota Kolasemauku Kolektif saat berkumpul. (kanan) Salah satu kolase yang dipamerkan. (ISTIMEWA)
KREATIF: Anggota Kolasemauku Kolektif saat berkumpul. (kanan) Salah satu kolase yang dipamerkan. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Memanfaatkan bahan-bahan sisa, para pegiat kolase ini menciptakan karya  yang sarat makna. Melalui karya, mereka juga kerap menyampaikan pesan-pesan kritik sosialnya. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

MENCARI bahan berupa gambar, tulisan, dan yang lainnya dari majalah, menggunting, kemudian menyatukannya menjadi sebuah karya. Itulah yang dilakukan anggota Kolasemauku Kolektif atau Kelompok Seni Independen di Kota Semarang.

Kolase, dijelaskan oleh Debby Janet, salah satu anggota Kolasemauku Kolektif, merupakan metode berkesenian gunting tempel menggunakan bahan-bahan sisa yang tidak terpakai. Baik berupa majalah, bungkus makanan/minuman, kardus, tissu, kain, daun kering, kayu dan bahan-bahan lainnya.

Semua bahan-bahan sisa atau bekas itu, digunting untuk mendapatkan gambar atau tulisan yang diinginkan. Kemudian ditempel dalam sebuah medium apapun. Bisa pakai kertas tebal, papan triplek, juga kanvas. ”Kalau kemarin kami menggelar lokakarya menggunakan kanvas berukuran 2 x 1 meter,”ceritanya.

”Memang masih jarang yang mengetahui dan mengenal apa itu seni kolase,” ujar Janet.

Mengenai kolase, Riska F, salah satu anggota lainnya menjelaskan, kesenian ini memiliki semangat perubahan. Dapat dilihat praktik penciptaan karya seni ini, yakni dengan mengambil gambar lama dan menyuguhkan sesuatu yang baru dengan segala bentuk perubahan.

”Kalau dirunut sejarahnya seni kolase memang mengusung semangat perubahan. Ambil gambar sana-sini dari berbagai sumber berlainan, kemudian berusaha menyatukan semua potongan gambar dalam satu bidang,” jelasnya.

Saat ini, seni kolase sudah mulai banyak peminatnya. Terbukti, dalam sebuah acara peringatan hari kolase sedunia di Semarang, muncul karya-karya kolase untuk dipamerkan. Tak kurang dari 40 karya seni para pegiat kolase di Semarang dipamerkan di galeri milik komunitas Hysteria beberapa waktu lalu.

”Kami menggelar lokakarya membuat kolase bersama  bertemakan Collage Jamming Kertas Bekas Melawan Batas. Sebuah kolaborasi antara pegiat seni kolase di Kota Semarang yang cukup masiv beberapa tahun belakangan ini,” ujarnya.

Acara yang diikuti kurang lebih 25 peserta ini, berhasil menarik antusias warga Semarang. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, seniman, aktivis hingga pekerja kantoran.

Selain sebagai media berekspresi, seni kolase ternyata juga sering digunaka untuk menyampaikan pesan-pesan kampanye. Juga untuk menyampaikan kritik sosial mengenai keresahan akan kondisi lingkungan maupun politik di sekitar. ”Kami pernah membuat mengenai kelompok minoritas yang tidak mendapatkan hak-hak mereka,” jelas Riska.

Ke depan, diharapkan, pegiat seni kolase di Kota Semarang akan semakin bertumbuh dan bertambah. Diharpkan kolase juga bisa menghidupi para pegiat seni yang memang ingin fokus pada seni kolase ini. (*/aro)

Silakan beri komentar.