Ikhlas Membawa Berkah

188
Oleh: Arikhah
Oleh: Arikhah

RADARSEMARANG.COM – (Iblis berkata) “Ya Tuhanku oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka” (QS. AL-Hijr 39-40)

Ayat di atas merupakan jaminan Allah SWT bahwa orang yang ikhlas dalam beramal dan beribadah akan terhindar dari godaan dan rayu syaitan. Di tengah kehidupan yang kian sulit dan kompleks, tantangan dan godaan duniwai kian memasuki hidup nyata manusia yang tidak terhindarkan. Sulit memang mengesampingkan harta, pangkat, jabatan, popularitas atau gelar yang ingin selalu muncul dan diberi pujian.

Padahal Nabi Muhammad SAW pernah menegaskan keutamaan ihklas dalam kehidupan dalam sabdanya: “Barangsiapa yang tujuan utamanya mendapatkan pahala akhirat, pasti Allah akan menjadikan kekayaannya dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, pasti Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, serta dunia tidak akan datang sendiri kepadanya kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya“. (HR.Tirmidzi)

Secara bahasa ikhlas artinya murni, asli dan tidak bercampur dengan yang lain. Ia berarti memurnikan sesuatu secara total, tidak terbersit atau tidak ada kotoran sedikitpun. Dalam hal keimanan, ikhlas menjadikan totalitas untuk memurnikan pengabdian dan ibadah hanya untuk Tuhan Sang Esa, tidak ada aspek lain menyertainya. Secara istilah, ikhlas itu melaksanakan prilaku dan amal perbuatan semata-mata karena Allah, tidak karena yang lainnya. Hanya ridla Allah SWT yang didamba dari orang yang ikhlas. karena itu, Dzun Nun al-Mishri (w. 859), menyebutkan tiga indikator keikhlasan; respon dan reaksi sama ketika dipuji dan dicela, lupa amal baik yang pernah dilakukan dan berharap hanya balasan akhirat. dengan demikian dapat dikatakan bahwa ikhlas mencakup niat tulus hanya kepada Allah, tidak mengharap pujian manusia, kesesuaian antara lahir dan batin, serta tidak mengharap balasan dunia.

Itulah ikhlas yang mampu mengantarkan manusia menjadi selamat, karena memang hanya Allah-lah yang mampu menyelamatkan segala sesuatu. Karena sesungguhnya tanpa keikhlasan amal ibadah tidak ada harganya di sisi Allah. Ikhlas adalah syarat mutlak diterimanya ibadah. Amal yang banyak tanpa disertai keikhlasan menjadi tidak bermakna di hadapan Allah.

Maka, meski butuh perjuangan hebat nan berat, mengelola hawa nafsu untuk mencapai keikhlasan adalah penting dan harus menjadi perhatian setiap muslim. Tujuan yang bersifat materi dan keduniaan semestinya dijauhkan dari keoentingan dan orientasi hidup manusia. Hidup yang penuh tantangan dan cobaan ini menuntut ketatatan dengan penuh ketulusan niat dan keikhlasan hati.

Semoga di akhir bulan Ramadan ini, kita mampu membersihkan hati dari niat-niat yang kotor, agar selalu mendapatkan ridla dan bimbingan Allah, mampu melahirkan keikhlasan di setiap prilaku, ibadah, dan aktivitas kita. amin (*)

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo & Pengasuh Ponpes Darul Falah Besongo Semarang