Anak Guru Tidak Ada Nilai Tambah

PPDB Online Kota Semarang

432

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Dinas Pendidikan Kota Semarang akhirnya secara resmi mengumumkan aturan pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru  (PPDB) online tahun ajaran 2018/2019. Hal ini mengacu pada penerbitan Peraturan Wali Kota Nomor 29 Tahun 2018, Keputusan Wali Kota Semarang Nomor 422/575 tahun 2018, serta Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Nomor: 422.1/4642.

Kepala Disdik Kota Semarang, Dr Bunyamin MPd, menjelaskan, penyelenggaraan PPDB untuk tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini PPDB mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 Tahun 2018 yang mengedepankan sistem zonasi. Bunyamin menjelaskan, penerapan system zonasi akan dibagi menjadi dua.

“Jadi, ada zonasi terdekat 1 dan zonasi terdekat 2. Zonasinya kami pakai kelurahan. Masing-masing skornya, yakni 50 dan 40 persen,” jelas Bunyamin kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (9/6).

Jadwal pelaksanaan PPDB online di tingkat Kota Semarang pun dibagi. Untuk tingkatan TK dan SD, PPDB online akan dimulai pada 1 Juli mendatang bersamaan dengan PPDB online tingkat SMA/SMK se-Jateng. Sedangkan, untuk tingkat SMP akan dimulai pada 7 Juli mendatang.

Lebih lanjut Bunyamin menyebutkan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah rumus untuk PPDB tahun ini.

Untuk tingkatan SD, lanjut Bunyamin, rumus yang digunakan adalah Nilai Akhir Peringkat (NAP) = 7 x Usia + Zonasi. Penerapan rumus ini akan memberikan hasil akhir yang objektif di mana anak di usia yang sama, namun salah satunya berasal dari zonasi 1 memiliki peluang lebih tinggi untuk diterima di satuan pendidikan yang dipilih. Sementara untuk tingkatan SMP, rumus PPDB Online-nya, yakni NAP = Zonasi + 7/6 X Nilai Ujian Sekolah + Prestasi.

“SD kan tiga mapel, kalau misalnya dia nilainya 10 semua. Jadi, 7/6 dikalikan 30 itu kan ketemu nilai 35, nah nanti ditambahkan zonasi, ditambah lagi dengan prestasi. Itu ada sendiri poin-poinnya,” jelas Bunyamin.

Menurut Bunyamin, sistem zonasi ini bertujuan untuk mendekatkan lingkungan sekolah dengan keluarga, dan menjamin pemerataan akses layanan pendidikan bermutu bagi siswa. Lebih jauh, penerapan sistem zonasi ini dapat menghilangkan eksklusivitas dan diskriminasi di sekolah negeri.

Selain itu, lanjut dia, membantu analisis perhitungan kebutuhan dan distribusi guru, mendorong kredibilitas pendidik dalam pembelajaran dengan kondisi siswa yang heterogen, serta memberikan bantuan atau afirmasi yang lebih tepat sasaran baik sarana maupun prasarana.

“Zona ini sudah disesuaikan pada kondisi yang ada di kelurahan setempat. Zona itu yang mengatur adalah daerah. Jika PPDB online itu pemerintah pusat. Formula itu pun bisa ditiru oleh daerah lain,” bebernya.

Sementara, nilai 10 persen lainnya terbagi masing-masing untuk 5 persen untuk siswa yang berprestasi. Sedangkan 5 persennya lagi yang mutasi dari orangtuanya karena tugas dinas. Nilai prestasi pun memiliki perbedaan di kejuaraan yang berjenjang seperti olimpiade. “Itu bisa langsung masuk,” tambahnya.

Terakhir, Bunyamin menegaskan bahwa dalam pelaksanaan PPDB online kali ini pihaknya mengganti nilai kemaslahatan yang sebelumnya menguntungkan bagi anak guru. “Anak guru masuknya kuota yang 10 persen, dan tidak ada nilai tambah. Otomatis masuk jika masih ada sisa kouta, jika penuh akan diadu dengan lainnya,”  tandas Bunyamin. (tsa/aro)