33 C
Semarang
Senin, 6 Juli 2020

Pesta Oplosan, 3 Tewas

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG—Minuman keras (miras) oplosan kembali menelan korban jiwa. Tiga pemuda tewas usai pesta oplosan jenis tuak yang dibeli dari seorang penjual di depan pabrik kayu ABP, Candimulyo, Temanggung.

Kapolres Temanggung AKBP Wiyono Eko Prasetyo menjelaskan, korban tewas tersebut masing-masing Ahmad baskoro, 27, warga Desa Mudal, Kabupaten Temanggung; Bimo Sakti, 28, warga Kayogan, Kelurahan Sidorejo; dan Arif Meilana, 39, warga Kelurahan Sidorejo Temanggung. Selain itu ada seorang korban yang selamat, FA, 17, warga Kelurahan Sidorejo.

Oplosan maut ini bermula saat keempat korban minum oplosan di rumah Arif pada Rabu (6/6) sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka membeli 1 botol tuak hitam dan 3 botol tuak putih dari penjual berinisial I di sebuah rumah kos depan pabrik kayu ABP.

Selang sehari usai pesta, Kamis (7/6) pukul 17.00 WIB, Ahmad Baskoro meninggal dunia di rumah Arif. Sementara 3 korban lainnya dilarikan ke RSUD Temanggung untuk mendapatkan perawatan medis. Selanjutnya pada Jumat (8/6) pukul 01.30 WIB, giliran Arif yang meninggal dan disusul Bimo pada pukul 06.30 WIB.

Berdasarkan keterangan dari korban, petugas Polres Temanggung akhirnya menangkap penjual dan produsen tuak oplosan tersebut. Mereka adalah pedagang minuman oplosan Imm, 32, warga Jalan Mujahidin Kelurahan Giyanti Kecamatan Temanggung; pemilik minuman oplosan Edr, 50, dan Sr, 47, warga Dusun Genting, Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari. Kemudian pembuat minuman oplosan War, 45, dan Ek, 47, warga Desa Menggoro Kecamatan Tembarak.

Dijelaskan Wiyono, Edr dan Sr meminta pada War dan Ek untuk membuat tuak, dengan bahan-bahan yang telah ditentukan. Pada proses pembuatan itu ditambahkan spiritus murni. Mereka membuat dua jenis tuak yakni warna hitam kecoklatan yang dicampuri gula merah dan warna putih dicampuri gula pasir. Selanjutnya War dan Ek menjual tuak tersebut pada Imm dengan harga Rp10.000 per botol dan dijual pada konsumen Rp20.000 per botol.

“Selama dua minggu beroperasi ada 25 botol yang diproduksi, empat botol dibeli dan dikonsumsi para korban. Sedang 19 botol berhasil diamankan untuk dijadikan barang bukti kejahatan dan dua botol labfor untuk diteliti,” kata Wiyono.

Petugas juga menyita puluhan botol minuman beralkohol berbagai merek, ciu, sisa minuman oplosan yang belum dijual dan peralatan pembuatan minuman oplosan serta sejumlah uang tunai. “Minuman oplosan ini sangat berbahaya. Kami akan tingkatkan operasi siapa tahu masih ada lagi industri seperti ini,” katanya.

Ia mengatakan, tersangka dijerat pasal primer 204 ayat (1,2) KUHP Jo Pasal 55 KUHP Subsider 146 ayat 2 huruf b Jo pasal 140 UU No 18 th 2012 tentang Pangan dan Pasal 55 KUHP. “Mereka terancam pidana maksimal 20 tahun penjara,” katanya. (jpg/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

2 Bulan, Otopsi Belum Dikerjakan

SALATIGA-Kematian Bambang Heri Susanto pada 13 Oktober 2016 lalu masih misterius. Penjaga SD Negeri 06 Ledok ini ditemukan tergantung di kamarnya. Pihak keluarga menduga...

Dipenuhi Merah Muda PKH Kecamatan Grabag

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID–Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang, Sabtu (5/5) kemarin, menggelar jalan santai dalam rangka memperingati Hari Kartini. Halaman kantor Kecamatan Grabag berubah menjadi merah muda....

Matikan HP dan TV Saat Magrib

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Khawatir dengan dampak perkembangan teknologi informasi yang berakibat pada hilangnya karakter dan adab berbudaya, Pemerintah Kabupaten Batang mengajak warga untuk mematikan...

Polisi Pastikan Video Telur Palsu Hoax, Pemeran Video Minta Maaf

JawaPos.com - Bareskrim Polri memastikan video mengenai telur palsu di Pasar Johar Baru, Jakarta Pusat, hanya hoax. Bahkan, pemeran video, Syahroni meminta maaf atas...

DPRD Desak Pemkab Perbaiki Insfrastruktur

BATANG-DPRD Kabupaten Batang mendesak Pemkab Batang untuk segera  melakukan perbaikan infrastruktur. Terutama perbaikan jalan rusak, yang selama ini banyak dikeluhkan masyarakat luas. Hal tersebut terungkap...

Kendala Guru dalam Mengikuti Program Keahlian Ganda

RADARSEMARANG.COM - IDIOM ganti menteri ganti kurikulum seakan menjadi hal yang biasa saat ini. Imbas pergantian kurikulum akan berdampak bagi guru. Salah satunya adalah...