Pesta Oplosan, 3 Tewas

259

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG—Minuman keras (miras) oplosan kembali menelan korban jiwa. Tiga pemuda tewas usai pesta oplosan jenis tuak yang dibeli dari seorang penjual di depan pabrik kayu ABP, Candimulyo, Temanggung.

Kapolres Temanggung AKBP Wiyono Eko Prasetyo menjelaskan, korban tewas tersebut masing-masing Ahmad baskoro, 27, warga Desa Mudal, Kabupaten Temanggung; Bimo Sakti, 28, warga Kayogan, Kelurahan Sidorejo; dan Arif Meilana, 39, warga Kelurahan Sidorejo Temanggung. Selain itu ada seorang korban yang selamat, FA, 17, warga Kelurahan Sidorejo.

Oplosan maut ini bermula saat keempat korban minum oplosan di rumah Arif pada Rabu (6/6) sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka membeli 1 botol tuak hitam dan 3 botol tuak putih dari penjual berinisial I di sebuah rumah kos depan pabrik kayu ABP.

Selang sehari usai pesta, Kamis (7/6) pukul 17.00 WIB, Ahmad Baskoro meninggal dunia di rumah Arif. Sementara 3 korban lainnya dilarikan ke RSUD Temanggung untuk mendapatkan perawatan medis. Selanjutnya pada Jumat (8/6) pukul 01.30 WIB, giliran Arif yang meninggal dan disusul Bimo pada pukul 06.30 WIB.

Berdasarkan keterangan dari korban, petugas Polres Temanggung akhirnya menangkap penjual dan produsen tuak oplosan tersebut. Mereka adalah pedagang minuman oplosan Imm, 32, warga Jalan Mujahidin Kelurahan Giyanti Kecamatan Temanggung; pemilik minuman oplosan Edr, 50, dan Sr, 47, warga Dusun Genting, Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari. Kemudian pembuat minuman oplosan War, 45, dan Ek, 47, warga Desa Menggoro Kecamatan Tembarak.

Dijelaskan Wiyono, Edr dan Sr meminta pada War dan Ek untuk membuat tuak, dengan bahan-bahan yang telah ditentukan. Pada proses pembuatan itu ditambahkan spiritus murni. Mereka membuat dua jenis tuak yakni warna hitam kecoklatan yang dicampuri gula merah dan warna putih dicampuri gula pasir. Selanjutnya War dan Ek menjual tuak tersebut pada Imm dengan harga Rp10.000 per botol dan dijual pada konsumen Rp20.000 per botol.

“Selama dua minggu beroperasi ada 25 botol yang diproduksi, empat botol dibeli dan dikonsumsi para korban. Sedang 19 botol berhasil diamankan untuk dijadikan barang bukti kejahatan dan dua botol labfor untuk diteliti,” kata Wiyono.

Petugas juga menyita puluhan botol minuman beralkohol berbagai merek, ciu, sisa minuman oplosan yang belum dijual dan peralatan pembuatan minuman oplosan serta sejumlah uang tunai. “Minuman oplosan ini sangat berbahaya. Kami akan tingkatkan operasi siapa tahu masih ada lagi industri seperti ini,” katanya.

Ia mengatakan, tersangka dijerat pasal primer 204 ayat (1,2) KUHP Jo Pasal 55 KUHP Subsider 146 ayat 2 huruf b Jo pasal 140 UU No 18 th 2012 tentang Pangan dan Pasal 55 KUHP. “Mereka terancam pidana maksimal 20 tahun penjara,” katanya. (jpg/ton)