Menemukan Kembali Fitrah yang Hilang

130
Oleh: Muhtarom
Oleh: Muhtarom

RADARSEMARANG.COM – MANUSIA adalah makhluk yang paling mulia (QS. al-Isra’: 70) dan sebaik-baik ciptaan Tuhan (QS. al-Tin: 4). Ia diciptakan dengan karakter dasar yang multitalenta, penguasa bumi, makhluk berakal yang berdimensi individu, sosial, dan spiritual. Inilah sebenarnya fitrah manusia itu. Maka sesungguhnya, kebahagiaan dan kedamaian akan diperoleh jika ia mampu memenuhi fitrahnya itu secara utuh.

Sebaliknya jika ia kehilangan fitrah ini, ia akan menemukan banyak persoalan dalam hidupnya. Hidupnya benar-benar akan bermasalah tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi orang orang lain, lingkungan sekitarnya, bahkan masyarakat secara luas. Manusia yang kehilangan fitrahnya, akan tampil dalam sosok manusia yang telah hilang sisi kemanusiaannya.

Ia bisa tampil dalam sosok yang suka mengumbar nafsu syahwat seperti kaum Nabi Luth (sodom), sosok yang rakus akan harta seperti Karun, sosok yang dzalim dan sewenang-wenang serta gila akan kekuasaan seperti Fir’aun, dan lain sebagainya. Itulah manusia-manusia yang digambarkan Alquran lebih rendah derajatnya dari pada binatang. Yang demikian itu karena mereka diberi mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat, diberi telinga tapi tidak digunakan untuk mendegar, diberi hati dan akal budi tetapi tidak digunakan untuk memahami (QS. Al-A’raf: 179).

Menurut Alquran, sebab hilangnya fitrah antara lain karena ia lalai dan menuruti hawa nafsunya, tergoda oleh setan, dan meninggalkan petunjuk Tuhannya (QS. Thaha: 115-121). Hawa nafsu akan menyeret manusia kepada prilaku yang rendah dan hina. Oleh karenanya, ia harus dikendalikan supaya tidak liar dan menyeretnya terlalu dalam ke lembah kehinaan dan kehancuran. Setan adalah musuh nyata dan abadi bagi manusia, karenanya jangan dijadikan sebagai teman.

Pengalaman Nabi Adam yang terusir dari surga gara-gara tergoda oleh bujuk rayu setan bisa menjadi pelajaran yang paling berharga bagi manusia untuk berhati-hati dan tidak berkompromi dengan setan. Meninggalkan petunjuk Tuhan menjadi penyebab lain hilangnya fitrah bawaan manusia.

Bagaimana cara menemukan kembali fitrah yang (hampir) hilang tersebut. Menurut Alquran, manusia akan dapat menemukan kembali fitrahnya manakala ia mau bertobat untuk membersihkan diri dari segala dosanya, dan berpegang teguh mengikuti petunjuk Tuhan disertai kemauan kuat untuk dapat melawan dorongan hawa nafsu dan godaan setan. Ramadan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk menemukan kembali fitrahnya yang hilang. Ramadan merupakan training center bagi umat Islam agar mampu mengendalikan diri dari jeratan nafsu hewani. Mengapa, karena selama satu bulan umat Islam dilatih secara intensif untuk bisa menahan diri dari bujuk rayu setan yang penuh dengan tipuan.

Di hari-hari akhir Ramadan ini umat Islam semestinya semakin fokus dan meningkatkan intensitas beribadah, banyak membaca dan mengkaji Alquran, memperbanyak dzikir dan istighfar, berinfaq dan sedekah serta yang lebih utama menebarkan kasih sayang dan kebahagiaan kepada orang lain. Inilah ikhtiar kita menemukan fitrah yang mungkin menjauh dari kita. (*)

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang