Oleh: Tri Wahyuni SPd
Oleh: Tri Wahyuni SPd

RADARSEMARANG.COM – DALAM pembelajaran Bahasa Inggris peserta didik sering memiliki ketakutan atau kekhawatiran membuat kesalahan saat berbicara bahasa Inggris. Ketakutan ini muncul karena pada saat mengatakan sesuatu peserta didik ragu bahwa mereka mengatakannya dengan benar. Kondisi ini bisa lebih parah dengan sikap para peserta didik yang cenderung menghindari komunikasi  karena tidak mau merasa malu. Dalam kelas speaking mereka lebih suka menjadi pendengar saja dan terkesan pasif dengan aktivitas yang diberikan. Banyak yang terlintas di benak peserta didik pada saat mereka berusaha membentuk suatu kalimat lisan. Tata Bahasa (grammar) misalnya, sering menjadi penyebab ketakutan ini, selain itu juga kosa kata (vocabulary), pelafalan dan intonasi yang kurang tepat (pronounciation) serta kesulitan mengungkapkan ide secara lisan. Perasaan malu dan takut diejek teman membuat peserta didik menahan diri untuk mempraktekkan kemampuan belajar mereka.

Terus bagaimana peran guru membantu peserta didik menghadapi masalah yang dihadapi peserta didik ini? Guru perlu menekankan berulang kali kepada para peserta didik bahwa mereka bukan penutur bahasa Inggris, sehingga jika berbuat kesalahan dalam berbicara bahasa Inggris adalah hal yang normal. Jika terdapat keganjilan sana sini dalam kalimat yang mereka gunakan, hal itu adalah hal yang wajar dan tidak perlu mengkhawatirkannya sehingga peserta didik dapat menikmati alur kegiatan saat kelas speaking Bahasa Inggris. Jadi, guru perlu menanamkan mindset kepada peserta didik bagaimana mereka menghadapi keslahan yang mereka buat saat berbicara dalam bahasa Inggris. Kesalahan itu wajar, tidak perlu menghambat komunikasi, masih terpahami oleh lawan bicara, jadi jangan menyerah!

Selanjutnya perlu dijelaskan kepada peserta didik bahwa banyak faktor yang ada dalam kegiatan speaking yang dapat membantu lawan bicara memahami maksud kalimat si penutur misalnya ekspresi, gesture dan  mimik muka saat terjadinya conversation. Untuk membantu meningkatkan keberanian dan motivasi siswa berbicara di kelas speaking guru dituntut menentukan jenis aktivitas yang dapat mendongkrak motivasi dan keberanian siswa berbicara pada kelas speaking.

Aktivitas komunikasi dapat dipilah-pilah dari skala kecil misalnya dengan aktivitas berpasangan dengan teman sebangku, kemudian dalam group kecil yang terdiri atas 3 atau 4 peserta titik, meningkat dalam lingkup yang lebih besar, yaitu kelompok yang terdiri atas 6 atau 7 orang dan seterusnya hingga akhirnya meningkat dalam lingkup satu kelas besar. Guru harus berkeliling mengecek setiap kelompok yang sudah terbentuk guna meyakinkan semua peserta didik ikut terlibat dalam aktivitas speaking yang diberikan. Hendaknya komentar guru harus bersifat membangun dan memotivasi peserta didik tersebut termasuk saat mengoreksi kesalahan yang dilakukan peserta didik. Rambu- rambu atau batasan berbicara harus disampaikan di awal aktivitas, sehingga topik yang dilatihkan tidak terlalu luas, namun tetap memberikan kesempatan bagi siswa untuk  berpikir secara mandiri.

Peran serta guru dalam aktivitas di kelas adalah sebagai motivator dan fasilitator. Dorongan motivasi secara pribadi dan kelompok dapat menjadi rangsangan dan penguatan, sehingga peserta didik semakin berani dan mampu mengeluarkan kreasi, ide dan potensi dalam aktivitas yang dilakukan. Dengan melakukan aktivitas speaking peserta didik akan terbiasa dan berani bercakap – cakap dalam bahasa Inggris secara langsung dan perlahan tapi pasti rasa percaya diri siswa akan tumbuh. Walau ada kesalahan yang mereka buat, namun dengan rasa percaya diri mereka akan tetap berani berbicara. (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga