Pengiriman Barang Naik Signifikan

171
MEDIA VISIT : Head of Regional JNE Jateng-DIY Marsudi didampingi jajarannya menyerahkan kenang-kenangan kepada Kepala Biro Kedu Mukhtar Lutfi di kantor Magelang Kamis (7/6) kemarin. (Ima Chafid/radar kedu)
MEDIA VISIT : Head of Regional JNE Jateng-DIY Marsudi didampingi jajarannya menyerahkan kenang-kenangan kepada Kepala Biro Kedu Mukhtar Lutfi di kantor Magelang Kamis (7/6) kemarin. (Ima Chafid/radar kedu)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Menjelang Lebaran jasa pengiriman barang mengalami kenaikan dibandingkan hari-hari biasa. Peningkatan tersebut menurut Branch Manager JNE Magelang, Bambang Kristiadi, mencapai 20 persen terutama pada awal-awal puasa.

“Barang-barang yang dipaketkan keperluan Lebaran. Pada H-2 biasanya pengiriman menurun, namun akan kembali naik pada H+7 Lebaran,” papar Bambang Kristiadi ketika berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Kedu di Magelang bersama Head of Regional JNE Jawa Tengah-DIY Marsudi, PR Regional JNE Jateng Widiana dan tim sales & marketing.

Sampai saat ini pihaknya tetap menerima paket pengiriman ke berbagai tujuan. Bahkan kantornya tetap buka 24 jam. Meskipun transportasi ekspedisi menggunakan truk besar mulai dilarang pada pada H-7 hingga H+7 karena bersamaan dengan arus mudik dan balik, JNE tetap beroperasi menggunakan engkel.

Diakui, maraknya online shop mendongkrak bisnis jasa pengiriman paket. Hal itu mendorong menjamurnya jasa-jasa pengiriman paket. JNE tetap optimistis merebut pasar karena memiliki jaringan luas dengan pengiriman cepat.

Diungkapkan Head of Regional JNE Jateng-DIY Marsudi, konsumen saat ini membutuhkan kecepatan waktu dalam pengantaran barang. Untuk itu pihaknya mengimbangi dengan berbagai program aplikasi dan sumber daya manusia yang mendukung. “Jaringan lebih luas dan cepat itu yang dibutuhkan konsumen,” tandas Marsudi.

Di sisi lain lanjut Marsudi, konsumen juga perlu mendapatkan edukasi mengenai jasa pengiriman barang. Barang apa saja yang bisa dikirimkan via paket dan yang tidak bisa. Seringkali konsumen tidak berterus terang mengenai barang yang hendak dikirimkan. Dia mencontohkan barang berbentuk cairan terbentur larangan di bandara.

“Kalau konsumen mengatakan barang yang dikirimkan itu minuman misalnya, akan kita perlakukan sebaik mungkin agar tidak rusak,” ujarnya sembari menambahkan selama ini orang hanya tahu barang berbentuk cairan dilarang dikirim. Padahal sebenarnya bisa dikirim, hanya saja dengan perlakuan berbeda.

Edukasi terhadap konsumen tersebut memerlukan sinergitas dengan media massa sebagai penyampai informasi kepada publik. Pihaknya berhadap ada kerja sama dengan media massa, baik untuk event-event maupun sebagai edukasi kepada konsumen mengenai jasa pengiriman barang. (lis)