Momentum Ramadhan, Melatih Kejujuran

182
Oleh: Endang Supriadi  MA
Oleh: Endang Supriadi  MA

RADARSEMARANG.COM – MAKNA dan hakikat puasa sesungguhnya tidak cukup sekadar meninggalkan makan, minum, dan hal-hal lainnya yang secara hukum fiqih dianggap membatalkan puasa. Karena orang yang berpuasa harus juga menahan seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan-perbuatan tercela dan dosa. Lisannya tidak boleh berkata dusta, mengucapkan sesuatu yang kotor, menebarkan fitnah, memutar-balikan fakta, atau meyakinkan orang lain dengan berita yang mengada-ada demi kepentingannya. Perutnya juga harus dijaga dari segala jenis makanan dan minuman yang tidak halal.

Demikian pula pikirannya, harus benar-benar dijaga dari prasangka-prasangka buruk (su’udzan), baik terhadap Allah maupun terhadap sesama. Termasuk dalam menyikapi berita apapun yang kita sendiri tidak mengetahui secara pasti akar persoalan dan kebenarannya, sebagaimana yang sering terjadi di masyarakat kita, kita tidak boleh langsung memvonis dan menghakimi secara sepihak tanpa melakukan upaya tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu secara langsung dengan pihak-pihak yang berkaitan. Hal ini penting agar tali silaturahmi dan persaudaraan tetap terjaga, dan perselisihan apalagi sikap permusuhan yang didorong oleh sikap ananiyah (egoisme) dapat dihindarkan.

Dalam konteks kehidupan sekarang, kejujuran adalah sikap yang langka dan mungkin telah hilang. Maka ibadah puasa Ramadhan yang sedang kita jalani ini harus bisa membuat kita bisa menjadi manusia yang jujur, untuk menemukan kembali kejujuran yang hilang. Puasa harus mendorong kita untuk melakukan introspeksi diri, apakah selama ini kita telah bersikap jujur atau malah sebaliknya. Bukan rahasia umum lagi bahwa realitas kehidupan ini penuh dengan persaingan. Orang-orang kemudian berebut jabatan, saling sikut tanpa pandang teman atau bukan, korupsi merajalela di mana-mana.

Orang yang jujur itu nasibnya mujur dan penuh dengan kedamaian. Orang jujur berani dalam menyuarakan kebenaran, tidak takut dengan apapun dan tidak mudah terkena bujuk rayu untuk melakukan kejahatan. Orang jujur akan rela memohon maaf apabila ia melakukan kekhilafan. Orang juga mudah memaafkan. Karena menyimpan kesalahan dan dendam hanya akan membuat jiwa sakit. Orang jujur tak punya musuh, ia akan berteman dengan siapapun tanpa pandang jabatan dan kedudukan. Orang jujur menghargai keberadaan orang lain, tak pandang apakah ia muda atau lebih tua darinya, tidak mempedulikan apakah orang lain itu miskin atau kaya.

Kejujuran membuat hidup tanpa beban. Akan membuat seseorang fokus pada berbuat kebaikan. Ia hidup untuk mengabdi bukan hanya sekadar ikut-ikutan kebanyakan orang. Karena kejujuran itu menyelamatkan. Seseorang yang jujur sudah tak pandang pujian maupun cacian. Baginya hidup adalah perjuangan dan pengabdian. Risiko orang yang berjuang adalah mendapat pujian dan cacian. Namun ketika diuji ia tidak ‘terbang’, ketika dicaci tidak ‘tumbang’.(*)

Dosen Sosiologi FISIP UIN Walisongo Semarang