WhatsApp dan Kesalehan Virtual

187
Oleh: Mishbah Khoiruddin Zuhri
Oleh: Mishbah Khoiruddin Zuhri

RADARSEMARANG.COM – SAAT ini WhatsApp merupakan salah satu kecanggihan piranti sosial kebebasan yang paling diminati masyarakat. Sebagai ruang digital (cyber space), ia menjadi pergeseran identitas, komunitas virtual dan kekagetan kultural (culture shock). Namun, fakta ini tidak diimbangi dengan kecakapan sosial (social skill) dan kesalehan virtual. Kalau dunia sosial, orang cukup menjadi saleh dengan berbuat baik kepada tetangga dekat rumah. Di dunia digital, spektrum kesalehan virtual lebih luas dan memiliki tantangan dua dimensi, yakni dimensi sosial sekaligus virtual.

Ada beberapa prinsip dasar kesalehan virtual. Pertama, keterbukaan dan kejujuran. Keterbukaan virtual menyaratkan adanya (1) kejujuran sikap, yang tercermin dalam status, catatan dan respon. Dalam dunia nyata, kita bisa menilai sikap seseorang dari bagaimana ia bersikap. Sementara dalam dunia virtual, yang lebih dominan menentukan sikap seseorang adalah bagaimana ia menyatakan pendapat dan merespon. Status adalah ekspresi verbal. Emotikon merupakan ekspresi visualnya. Selain kejujuran sikap, keterbukaan virtual menekankan (2) kejujuran maksud. Kebermaksudan bisa dipahami dari pemilihan diksi bahasa yang digunakan. Kejujuran maksud tidak menuntut balasa, tanpa pamrih. Namun, kebermaksudan menyisakan harapan-harapan dan citra yang hendak dibangun.

Kedua, validitas data. Informasi atau berita selalu punya dua sisi: benar dan salah. Maka, validasi informasi menjadi penting. Dalam Islam, kita mengenal istilah “tabayyun”, mengkonfirmasi informasi apakah benar atau salah, apakah sesuai dengan fakta atau fiksi? Menunda untuk tidak berbagi informasi menjadi bagian penting agar tidak terjebak pada penyebaran berita palsu dan fiktif. Salah satu unsur berita fiktif adalah informasi yang disajikan tidak memenuhi unsur pemberitaan (4W-1H); profokatif dan manipulatif.

Produksi informasi berlimpah. Namun, kecakapan memvalidasi informasi lebih penting dari sekedar membaca dan membagikannya. Membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya sama saja membagikan informasi palsu. Tingkat ketersebaran informasi di dunia digital lebih cepat. Kesalehan dalam mengelola informasi dan data menjadi dari bagian keimanan, karena ia tidak tergesa-gesa berbagi dan memvalidasi data yang diterima sampai data tervalidasi dan terkonfirmasi kebenarannya.

Ketiga, tepa selira. Kita perlu juga mempertimbangkan perasaan anggota grup. Ada beragam orang dengan karakter beragam. Kebenaran tidak lantas paripurna ketika pendapat pribadi diunggulkan dan melukai pihak lain. Kelapangan hati menjadi kunci untuk menerima pandangan lain yang berbeda, pilihan yang beda haluan, keputusan yang tidak berpihak. Kebebasan berpendapat memiliki batasan berupa penghargaan atas pihak di luar kita. Dunia digital masih parsial, separuh digital, setengahnya nyata. Apa yang terjadi di dunia digital memiliki dampak pada dunia nyata. Ia sekarang seperti cermin ruang nyata dalam ruang digital.

Keempat, keterhubungan kesalehan virtual dengan sosial. Segala bentuk simpati dan empati dalam ruang digital tidak lantas menggugurkan hak dan tanggung jawab sosial kita. Bela sungkawa tidak cukup dengan ucapan bela sungkawa di group tanpa takziyah. Permohonan maaf belum purna jika semata-mata disampaikan lewat gawai, dan lain sebagainya. (*)

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, UIN Walisongo Semarang